Tingginya kasus kecelakaan kerja dan lalu lintas di Batam membuat penanganan ortopedi menjadi semakin krusial. Penanganan pasien ortopedi tidak boleh menunggu hingga bertemu dokter spesialis. Pertolongan pertama justru harus dilakukan sejak pasien tiba di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit maupun klinik.
Dokter spesialis ortopedi, dr Didi Fitriadi Nasution, MKM, M.Ked(Surg), Sp.OT, menegaskan tindakan awal yang benar di Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun di lapangan menjadi kunci untuk menyelamatkan pasien dan mencegah cedera semakin parah.
“Tenaga medis di garda depan seperti dokter umum di IGD maupun perawat perlu memiliki keterampilan dasar sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan,” kata dr Didi, saat menjadi instruktur di Batam Orthopaedi Seminar and Workshop (BOSS) di Hotel Harris Batam Center, Sabtu (13/9).
Menurutnya, masyarakat selama ini masih menganggap dokter ortopedi hanya menangani tulang. Padahal, ruang lingkup ortopedi jauh lebih luas, termasuk masalah otot, sendi, saraf, hingga cedera akibat usia lanjut.
‘‘Kebanyakan kasus di Batam adalah kecelakaan kerja dan kecelakaan lalu lintas. Penanganan pertama yang tepat sangat menentukan, jangan sampai salah langkah karena bisa memperburuk kondisi pasien,’’ ungkap dokter spesialis yang bertugas di RS Awal Bros Botania, Batuaji dan RS Elizabeth Lubukbaja ini.
Dalam workshop tersebut, dr Didi menjabarkan tata laksana kegawatdaruratan ortopedi, mulai dari pertolongan pertama di IGD hingga pemasangan gips untuk kasus patah tulang. Ia menekankan pentingnya prinsip dasar dalam penanganan pasien: first do no harm.
“Jangan sampai niat menolong justru menimbulkan cedera baru. Salah mengangkat atau salah imobilisasi bisa membuat patah tulang bertambah parah,” tegasnya.
Batam sendiri disebut rawan kasus ortopedi karena padatnya kawasan industri dan tingginya lalu lintas kendaraan. Selain itu, kecelakaan di rumah tangga seperti jatuh di kamar mandi pada usia lanjut juga cukup sering terjadi.
“Hampir semua rumah sakit di Batam menangani kasus serupa setiap harinya,” kata dr Didi.
Ia mengungkapkan, jumlah dokter ortopedi di Kepri masih terbatas, yakni hanya 14 orang, dengan 12 di antaranya berdomisili di Batam. Kondisi ini membuat peran dokter umum di IGD sangat vital. “Dengan pelatihan seperti ini, dokter umum bisa lebih siap menangani kasus ortopedi darurat sebelum pasien dirujuk ke spesialis,” jelasnya.
Selain dokter umum, perawat juga dibekali keterampilan dasar ortopedi, seperti pengetahuan tentang implan dan instrumen operasi. Menurut dr Didi, kemampuan tenaga medis di lini pertama akan membuat penanganan pasien lebih cepat dan tepat.
“Tujuan kami agar pasien yang datang dalam kondisi darurat tetap mendapat penanganan awal yang baik, stabil, dan aman sebelum dibawa ke dokter ortopedi,’ tambahnya.
Sementara, Ketua panitia, dr Deded Yudha Pranatha Sp.OT, mengatakan kegiatan ini menyasar dua target utama, yakni dokter umum yang bertugas di instalasi gawat darurat (IGD) dan perawat kamar operasi.
“Tujuannya untuk menambah skill dan knowledge agar mereka bisa menangani kasus-kasus emergensi di bidang ortopedi dan traumatologi,” ujarnya.
Menurut Deded, kasus patah tulang dan luka akibat kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja masih mendominasi di Batam dan daerah sekitarnya. Dengan pelatihan ini, dokter umum di garda depan diharapkan mampu melakukan penanganan awal sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan.
“Peserta belajar pemasangan gips, cara menstabilkan kondisi pasien, hingga teknik pertolongan pertama. Jadi saat pasien dirujuk, kondisinya sudah proper dan stabil,” tambahnya.
Selain dokter, workshop juga diikuti perawat yang tergabung dalam Ikatan Perawat Ortopedi Indonesia (IPOTI). Mereka mendapat materi tentang implan dan instrumen ortopedi, termasuk praktik langsung menggunakan bone model.
“Peserta tidak hanya teori, tapi juga hands-on workshop,” kata Deded. (***)
Reporter : Yashinta
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI