Buka konten ini
BATAM (BP) – Antrean keberangkatan haji di Kota Batam kian panjang. Setiap hari, tercatat rata-rata 200 hingga 250 warga mendaftar haji reguler di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam. Dengan animo masyarakat yang terus meningkat, masa tunggu bagi pendaftar baru kini diperkirakan bisa mencapai lebih dari 25 tahun.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), hingga September 2025 jumlah warga Batam yang sudah masuk daftar tunggu mencapai 17.320 orang. Dari total itu, 761 orang di antaranya berstatus lanjut usia (lansia) atau berusia di atas 65 tahun.
“Benar, rata-rata ada 200 sampai 250 warga Batam yang mendaftar setiap hari. Angka ini cukup tinggi sehingga masa tunggu bisa mencapai 25 tahun,” ujar Kepala Kemenag Kota Batam, Budi Dermawan.
Budi menjelaskan, tingginya minat warga Batam mendaftar haji tidak lepas dari beberapa faktor, terutama meningkatnya kesadaran beragama dan kondisi ekonomi masyarakat yang relatif baik. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang mendaftarkan anaknya sejak usia belasan tahun agar memperoleh nomor porsi lebih awal.
“Sekarang trennya sudah bergeser. Bukan hanya orang dewasa atau lansia, tetapi banyak anak muda bahkan remaja yang sudah masuk daftar tunggu,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Kota Batam, Syahbudi, menambahkan kuota keberangkatan haji untuk Batam pada musim haji 2025 hanya sebanyak 721 orang. Dengan kuota terbatas dan pendaftar yang terus bertambah setiap tahun, pendaftar baru harus menunggu lebih dari dua dekade untuk bisa berangkat.
“Kuota terbatas, sementara animo masyarakat terus meningkat. Oleh karena itu, kami mengimbau agar masyarakat mempersiapkan diri sebaik mungkin, termasuk menjaga kesehatan sejak awal,” ujar Syahbudi.
Ia menegaskan, sebelum pelunasan biaya haji, seluruh calon jemaah akan menjalani verifikasi dokumen dan pemeriksaan kesehatan secara ketat. Jika tidak memenuhi persyaratan administratif maupun kesehatan, calon jemaah bisa digantikan oleh yang ada dalam daftar cadangan.
“Persiapan tidak hanya soal biaya dan dokumen, tetapi juga kesiapan mental dan fisik. Apalagi untuk lansia, menjaga kesehatan sejak dini sangat penting agar bisa berangkat sesuai jadwal,” pungkasnya.
Haji Furoda Menunggu Kepastian
Pertanyaan masyarakat terkait keberangkatan haji furoda terus bermunculan. Namun, hingga saat ini belum ada informasi resmi yang diterima Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam.
Kepala Kemenag Batam, Budi Dermawan, menjelaskan bahwa haji furoda berbeda dengan kuota reguler maupun khusus. Skema ini dikelola pihak swasta berdasarkan undangan langsung dari Pemerintah Arab Saudi.
“Yang jelas, haji furoda itu swasta dan sejenis undangan Kerajaan Arab Saudi melalui kedutaan besar. Problematika haji furoda ini ada pada kebijakan Arab Saudi. Misalnya, kalau Saudi memberi kuota 1.000 orang, sementara kita sudah ada jemaah reguler dan khusus, lalu ditambah furoda, maka kapasitasnya tidak terkonfirmasi. Itu bisa saja ditolak oleh Arab Saudi,” jelas Budi, Kamis (11/9).
Menurutnya, tahun ini pihaknya belum menerima informasi resmi terkait jumlah kuota haji furoda. Tahun lalu, tercatat sekitar 5.000 jemaah furoda se-Indonesia.
“Kuotanya tidak ada pembagian wilayah. Ada yang di Jakarta bisa 50 orang, di Batam hanya beberapa. Jadi memang independen dari Arab Saudi,” ujarnya.
Budi juga menyinggung perkembangan kelembagaan haji di Indonesia. Saat ini, Kementerian Agama dan Kementerian Haji sudah dipisahkan. Namun, di Batam kantor Kementerian Haji belum terbentuk dan sementara masih ditangani Kemenag.
“SDM-nya sekarang masih di Kemenag. Nanti pegawai akan disurati satu per satu, apakah tetap di Kemenag atau pindah ke Kementerian Haji. Rekomendasi pegawai tetap dari kami,” katanya.
Ia menjelaskan, pihaknya kini masuk dalam tim persiapan transisi penyelenggaraan haji. Ketua tim di tingkat provinsi adalah Kepala Kanwil Kemenag Kepri, sementara di tingkat kota dipimpin langsung Kepala Kemenag Batam.
“Tugas kami membantu Kementerian Haji yang baru ini, termasuk soal SDM. Saya sendiri belum tahu apakah ikut pindah atau tetap di Kemenag,” tambah Budi.
Meski ada perubahan struktur kelembagaan, layanan pendaftaran haji reguler tetap berjalan di Kemenag Batam. Saat ini, rata-rata 200–250 orang mendaftar setiap hari.
“Di Batam daftar tunggu sudah 25 tahun. Jadi masyarakat tetap mendaftar melalui Kemenag,” tegasnya. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RYAN AGUNG