Buka konten ini


KATHMANDU (BP) – Rabi Laxmi Chitrakar, istri mantan Perdana Menteri (PM) Nepal, Jhalanath Khanal, dikabarkan masih hidup setelah sempat beredar luas kabar bahwa dirinya meninggal dunia akibat luka bakar.
Kabar itu ditegaskan oleh mantan menteri sekaligus tokoh CPN (S), Jeevan Ram Shrestha, dalam wawancaranya dengan NepalPress.
Dalam wawancara tersebut, Shrestha menyebut bahwa Chitrakar mengalami luka bakar serius ketika rumah keluarga Khanal di kawasan Dallu dibakar kelompok demonstran Gen Z yang menggelar aksi anti-pemerintah.
Saat kejadian, Khanal sedang berada di luar, sementara istrinya berada di dalam rumah bersama sang putra, Nirbhik Khanal. ”Ia sudah dalam kondisi stabil, bahkan bisa berkomunikasi. Dokter menyebut nyawanya tidak lagi terancam,” kata Shrestha.
Setelah dievakuasi, Chitrakar sempat dirawat di ICU Rumah Sakit Tentara Nepal di Chhauni sebelum dipindahkan ke Rumah Sakit Kirtipur untuk perawatan lanjutan.
Peristiwa itu terjadi di tengah gejolak politik besar yang melanda Nepal. Ibu kota Kathmandu masih berada dalam status darurat dengan penjagaan ketat tentara, menyusul dua hari kerusuhan mematikan yang menewaskan sedikitnya 25 orang dan melukai lebih dari 600 orang.
Kerusuhan dipicu kebijakan larangan media sosial yang sempat diberlakukan pemerintah, sebelum akhirnya dicabut setelah menuai perlawanan keras.
Situasi genting ini juga memaksa PM Nepal K.P. Sharma Oli mengundurkan diri. Tentara Nepal menyatakan bahwa upaya koordinasi sedang dilakukan untuk meredakan ketegangan, sementara wacana dialog antara otoritas dan kelompok demonstran mulai dibahas.
Situasi Terkini
Sementara itu, kondisi Nepal masih kacau pascademo Gen-Z yang berujung pada tergulingnya pemerintahan. Nepal kini menghadapi krisis politik baru pascademo antikorupsi yang diwarnai kekerasan hingga merenggut 30 nyawa, sekaligus memaksa Perdana Menteri (PM) Nepal, K.P. Sharma Oli, mundur.
Dikutip dari AFP pada Jumat (12/9), jumlah korban tewas dalam unjuk rasa bertambah menjadi 51 orang. Tak hanya itu, puluhan ribu narapidana juga dilaporkan kabur dari penjara.
Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Kepolisian Nepal, Binod Ghimire. Ia mengatakan bahwa lebih dari 12.500 narapidana yang kabur dari berbagai penjara di seluruh negeri masih buron hingga kini.
Sementara itu, merujuk laporan Dainik Bhaskar, hingga 48 jam pascapengunduran diri KP Sharma Oli, siapa pengisi kursi PM Nepal belum diputuskan. Perundingan yang berlangsung masih belum mencapai kesimpulan.
Menurut laporan, hampir ada konsensus untuk menjadikan mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki, sebagai PM sementara. Namun, hal ini masih mendapat penolakan dari kubu lainnya. Karki disebut terlalu pro-India.
Kubu yang kontra mengajukan nama Wali Kota Kathmandu, Balen Shah. Jika Balen tidak menjadi PM, nama Wali Kota Dharan Harka Sampang dimunculkan sebagai alternatif. Kubu ini berdalih ingin pemimpin yang lebih muda.
Perbedaan pendapat tak hanya terjadi di forum. Sempat terjadi perkelahian antarkelompok di luar markas tentara yang mengakibatkan sejumlah pemuda terluka.
116 WNI Tertahan di Nepal,18 Orang Sudah Dipulangkan
Krisis politik berujung kerusuhan mematikan di Nepal berimbas terhadap nasib Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di negeri Gunung Everest itu.
Hingga kemarin, sebanyak 18 warga telah dipulangkan ke tanah air. Sementara itu, tercatat ada 78 WNI yang dilaporkan berada di Nepal.
Pada Kamis (11/9), rombongan pertama WNI diterbangkan menuju Indonesia melalui Tribhuvan International Airport. Mereka dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno-Hatta , Jumat (12/9) kemarin.
Rombongan pertama yang telah dipulangkan terdiri dari delegasi Kementerian ESDM, Kementerian Kesehatan, GIZ Indonesia, Asosiasi Hydro, akademisi Universitas Indonesia, serta WNI wisatawan.
”Sebagian besar rombongan yang (telah) kembali berada di Kathmandu dalam rangka pelaksanaan kerja sama energi baru terbarukan Indonesia-Nepal-Jerman pada 8–12 September 2025,” papar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Vahd Nabyl A. Mulachela dalam keterangannya.
Nabyl mengungkapkan, Tim Perlindungan WNI Kemlu dan KBRI Dhaka terus memantau kondisi WNI di sana, termasuk menghubungi mereka. ”Sebagai langkah cepat, Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI Dhaka telah berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memastikan bahwa seluruh WNI di Nepal dalam kondisi aman,” paparnya.
Berdasarkan data, total ada 56 WNI yang tinggal di Nepal. Namun, menurut catatan Tim Perlindungan WNI di Kathmandu, terdapat 78 WNI yang melakukan kunjungan singkat. Dengan demikian, ada 134 WNI yang berada di Nepal. Dari jumlah itu, masih ada 116 WNI yang bertahan.
Di sisi lain, KBRI Dhaka telah mengeluarkan imbauan agar para WNI di Nepal menghindari lokasi demonstrasi dan selalu waspada. Selain itu, mereka juga diminta menghubungi hotline KBRI jika mengalami masalah.
”KBRI juga telah melakukan koordinasi dengan otoritas setempat untuk membantu WNI yang kesulitan mengakses bandara, karena jalanan ditutup, sehingga mereka dapat kembali ke tanah air dengan selamat,” pungkasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO