Buka konten ini

Politikus muda Singapura penyuka buku-buku karya Hamka, Zhulkarnain Abdul Rahim, meluangkan waktu untuk berbincang dengan jurnalis Batam setelah perayaan Kemerdekaan ke-60 Singapura di Grand Mercure Hotel. Salah satu topiknya adalah terkait iklim investasi.
SEPIRING mi goreng dan secangkir kopi menjadi penghantar hangat perbincangan di meja panjang antara Menteri Negara (yang Ditunjuk) Urusan Luar Negeri serta Urusan Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura, Zhulkarnain Abdul Rahim, bersama sejumlah pemimpin redaksi media massa di Batam, Jumat (12/9).
Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.45 WIB saat koran ini sampai di Ambrosia Restaurant, Grand Mercure Hotel yang berlokasi di Batam Center. Konsulat Jenderal Singapura di Batam, Gavin Ang, dan sejumlah stafnya menyambut hangat kedatangan pers.
Gavin Ang memang tuan rumah yang mengundang sarapan ini. Mereka tampak rapi dengan dress code baju batik. Sehari sebelumnya mereka merayakan hari kemerdekaan ke-60 Singapura di hotel yang sama. Perayaannya dihadiri pejabat teras Pemerintah Provinsi Kepri, pemerintah kabupaten/kota se-Kepri, dan pebisnis Batam serta Singapura. Tampak hadir pula Senator Kepri, Ismeth Abdullah, yang juga mantan Ketua Otorita Batam dan Gubernur Kepri.
Menteri Zhulkarnain datang tak lama setelah para undangan hadir semua. Tidak ada seremoni kaku, Zhul langsung menyalami satu per satu hadirin. Senyum ramah tak lepas dari bibirnya sembari menyapa. “Kita makan sambil bincang saja ya,” ucapnya. Ia duduk di tengah, berhadapan dengan Batam Pos. Ayah empat anak tersebut juga mengenakan baju batik lengan panjang bercorak emas kombinasi hitam. Penampilannya bersahaja di usia yang tergolong masih muda, yakni 44 tahun.
“Saya pernah datang ke Batam beberapa tahun lalu, tapi untuk urusan hukum. Tentang perkapalan,” ungkap mantan pengacara itu membuka perkenalan.
Tak ingin membuang waktu, para jurnalis langsung melontarkan pertanyaan kebijakan dan berita terkait Singapura terutama yang berhubungan langsung dengan Kota Batam, seperti penghentian impor babi dari Batam, penutupan lapangan golf di Singapura, pelarangan vape dan rokok elektrik, isu warga Singapura yang enggan punya anak, hingga masalah investasi di Batam.
Khusus investasi Singapura di Batam, Zhulkarnain mengatakan bahwa green economy, energi terbarukan, energy capability, dan training menjadi sektor yang menjanjikan.
“Walaupun negara-negara di Asia Tenggara bukan negara yang banyak mengeluarkan emisi dibanding Eropa, Amerika, atau Tiongkok, kita bisa membuat pendekatan sama. Bahwa perairan kita, lingkungan kita, dan kesehatan semua dijaga. Jadi, itu jadi green economy ini. Satu, alam sekitar dapat dijaga. Kedua, kita bisa membuka potensi bahwa ini akan mengurangi limbah dan meningkatkan energi. Saya lihat di Indonesia banyak sumber energi,” katanya.
Menurutnya, Indonesia diberi anugerah sumber daya alam yang melimpah. Bukan hanya energi yang bersumber dari fosil, tapi juga energi yang bersumber dari air, angin, dan matahari. Setelah pandemi Covid-19, negara-negara ASEAN mulai menggali potensi energi di negaranya masing-masing dan mengelolanya menjadi sumber energi.
Ia mencontohkan Vietnam, lebih ke tenaga angin karena banyak pegunungan dan sering terjadi topan. “Jadi, di dunia ada keistimewaannya sendiri-sendiri. Kita harus melihat bagaimana proyek-proyek ini dapat menjadi satu sektor penting untuk dikerjasamakan, di mana ASEAN dapat menghasilkan energi bersama,” papar Zhulkarnain.
Bahan bakar fosil, baginya adalah bentuk penjajahan baru. “Kita harus membentuk poros. Jadi Singapura bisa berpartner atas beberapa proyek seperti ini.” Ia menambahkan, tidak hanya di sektor energi terbarukan, tapi juga di sektor makanan.
Terkait pembangkit listrik tenaga surya, perusahaan-perusahaan Singapura mulai melirik potensi yang ada di Batam dan pulau-pulau sekitar Batam. Jarak yang dekat menjadi nilai tambah.
“Tahun ini masih dalam pembahasan bersama Kementerian ESDM. Kami sudah siap. Sekarang kami hanya menunggu dari ESDM. Kami mulai menyiapkan bukan hanya di Batam, juga pulau-pulau sekitar Batam seperti Pulau Sugi (Karimun), Rempang, dan Pulau Bulan yang dikelola Medco Energi,” katanya.
Juni lalu, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Singapura menandatangani partnership agreement yang salah satunya menyebutkan energi hijau. PT Medco Energi Internasional Tbk (Medco Energi) bersiap mengekspor listrik ke Singapura melalui proyek energi hijau yang akan dibangun di Pulau Bulan, Batam, Kepulauan Riau.
Proyek ini dirancang memiliki kapasitas 600 megawatt yang akan disalurkan ke Singapura lewat kabel laut.
Sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dan Menteri Industri dan Perdagangan Singapura, Tan See Leng, telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) ekspor listrik di Kantor ESDM, Jakarta Pusat, pada Jumat (13/6) lalu. Kesepakatan tersebut mencakup rencana ekspor listrik hingga 3,4 gigawatt ke Singapura sampai tahun 2035.
Bagi Singapura, tenaga surya berperan penting. Walaupun belum menghasilkan energi dengan sempurna, tapi bisa menjadi penghematan biaya. Efek rumah kaca di kota-kota besar seperti Jakarta dan Batam yang menyumbang panas bisa dikurangi dengan energi terbarukan ini.
“Di Singapura, kami sudah banyak solar panel. Hampir seluruh gedung dan rumah terpasang. Walaupun ini tidak menghasilkan dengan sempurna, tapi cukup untuk menghasilkan tenaga listrik, seper-ti link building di kawasan komunikasi,” kata Zhul.
Tak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan, Zhul juga bertanya seputar tantangan perusahaan-perusahaan di Batam, terutama terkait sumber daya manusia dan perizinan.
Di luar itu, perbincangan makin hangat dengan beragam kebijakan di Singapura. Misalnya pelarangan vape dan rokok elektrik, isu berkurangnya minat warga Singapura untuk berumah tangga dan punya anak.
“Bukan saja di Singapura, tapi di seluruh dunia, isu vaping ini bukan isu narkoba, tapi isu kesehatan,” katanya.
Namun demikian, Singapura tidak hanya melihat dari lensa kesehatan, tetapi vaping berpotensi disalahgunakan menjadi media narkotika. Maka dari itu, Negeri Singa melarang keras peredaran vape tersebut. “Jadi kalau di Singapura ada 16 atau 22 tempat di serata Singapura untuk semua orang yang ada alibi ini untuk surrender,” ucapnya.
Tidak dengan rokok. Singapura masih membolehkan rokok diperdagangkan dengan pengawasan ketat. Namun, kata Zhul, Singapura tidak mengambil banyak keuntungan dari rokok. “Itu hanya simbol bahwa kita harus jaga kesehatan,” tegasnya.
Dalam perbincangan juga disinggung pembangunan jalur kereta api cepat (RTS) Singapura–Johor Bahru sepanjang 4 kilometer. Jalur tersebut menghubungkan Stasiun Woodlands North di Singapura dengan Stasiun Bukit Chagar di Johor Bahru yang ditargetkan beroperasi pada Desember 2026. Perjalanan cuma butuh waktu 5 menit.
Proyek ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Batam untuk menarik weekenders—istilah Zhulkarnain untuk warga Singapura yang liburan di Batam pada akhir pekan. Transportasi dan akomodasi yang mudah dan murah antara Singapura dan Johor Bahru menjadi pilihan utama para weekenders tersebut.
“Batam punya daya tarik sendiri. Jadi, fokus pada strength lah. Kekuatan untuk menarik weekenders. Mungkin kalau sering-sering ke Johor nanti jemu. Yang jauh lagi dikenang,” ucapnya sembari tertawa.
Ia tak menampik bahwa kuliner di Batam istimewa terutama makanan laut seperti ikan bakar dan olahan boga bahari lainnya. Istimewa karena disajikan segar dan relatif murah.
Ketika disinggung terkait masalah populasi, Zhul mengatakan bahwa pemerintahnya memberi insentif kepada warganya yang ingin berumah tangga dan ketika punya anak, juga hak cuti bagi pekerja perempuan dan laki-laki (suami-istri). Subsidi perumahan bagi pasangan muda bisa sampai 120 ribu dolar Singapura (SGD) atau sekitar Rp1 miliar.
Bagi pasangan muda yang sudah punya anak, menjadi prioritas untuk mendapatkan rumah. Misalkan calon rumah mereka bisa ditinggali 1–2 tahun ke depan, maka mereka sementara mendapatkan rumah sewa yang disubsidi. “Jadi sementara menantikan rumah, mereka mendapat rumah sewa yang disubsidi,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Batam Pos menanyakan apakah perizinan usaha di Batam bagi Singapura sudah ideal dan sesuai ekspektasi? Zhulkarnain mengatakan kita harus terus memperbaiki karena aturan atau perizinan bukanlah hal yang kaku.
Menurutnya harus fleksibel dan dinamis.
“Kita seperti air atau sungai. Tidak tahu bagaimana keloknya, tapi kalau ada batu di tengahnya kita perlu fleksibilitas ataupun adaptasi. Itu yang dibuat oleh Batam sejak lama untuk memastikan atau meyakinkan bahwa Batam akan mampu mengatasi,” jawabnya politis.
Baginya, sesuatu yang ideal atau kesempurnaan memang harus diupayakan secara excellent. (***)
Reporter : Yusuf Hidayat
Editor : RYAN AGUNG