Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Kepulauan Anambas kini tanpa armada cepat untuk operasi penyelamatan di laut. Satu-satunya speedboat milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hangus terbakar saat simulasi bencana di perairan Tanjung Momong, Desa Tarempa Timur, pekan lalu.
Padahal, kapal jenis Rigid Inflatable Boat (RIB) itu menjadi andalan dalam setiap misi kemanusiaan. Dari membantu pencarian nelayan hilang hingga mengevakuasi korban tenggelam. “Tugas terakhirnya cukup heroik. Speedboat BPBD berhasil menyelamatkan bapak dan anak yang tenggelam saat memancing di Batu Lepe, Tarempa Timur,” kenang Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, Jumat (12/9).
Aneng menegaskan keberadaan speedboat sangat vital. Maklum, wilayah Anambas adalah kepulauan dengan laut sebagai jalur utama. “Sekarang memang masih ada kapal penyelamatan, tapi itu milik Basarnas, bukan Pemkab Anambas,” ujarnya.
Speedboat yang terbakar tersebut merupakan hibah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2023. Nilainya mencapai Rp2,9 miliar, dengan dua mesin berdaya total 400 horse power (HP). Dengan spesifikasi itu, kapal ini sangat membantu dalam operasi cepat di laut.
Hilangnya armada itu menjadi kerugian besar, bukan hanya bagi BPBD, tapi juga masyarakat. Anambas kerap menghadapi gelombang tinggi, cuaca ekstrem, hingga kecelakaan kapal. Tanpa kapal cepat, upaya penyelamatan rawan terhambat.
Bupati Aneng menyatakan pihaknya segera mengajukan permohonan hibah baru ke BNPB. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada kabar baik. Kalau mengandalkan anggaran daerah, kondisinya memang tidak memungkinkan. Doakan saja, semoga permohonan kita dikabulkan,” ucapnya penuh harap.
Meski kehilangan armada utama, Aneng menegaskan semangat penyelamatan tidak boleh padam. “Intinya, kita tidak boleh menyerah. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ujarnya. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GALIH ADI SAPUTRO