Buka konten ini

Fragmen kepala arca Ganesha dan koleksi wastra batik termasuk yang diambil penjarah, sedangkan arca Bodhisattva mengalami sedikit kerusahan. Karena kondisi museum sekarang, sejumlah artefak pun dipindah ke tempat aman.
TAK hanya belasan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang lumpuh karena kantor mereka dibakar massa. Sejumlah artefak koleksi Museum Bagawanta Bhari juga rusak, bahkan hilang dijarah.
Mengutip Radar Kediri (grup Batam Pos), Senin (1/9), museum itu terletak di belakang gedung DPRD Kabupaten Kediri yang juga dibakar massa di tengah demonstrasi pada Sabtu (30/8) malam. Kantor pemkab dan gedung DPRD Kabupaten Kediri bersebelahan.
Kaca-kaca museum dipecah, begitu pula inventaris lain seperti etalase dan lemari.
”Kondisi Museum Bagawanta Bhari memprihatinkan,” kata Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, setelah insiden.
Ada pula artefak yang hilang, yaitu fragmen kepala arca Ganesha. Kerusakan juga terjadi pada beberapa arca, termasuk koleksi “masterpiece” Kabupaten Kediri: Bodhisattva.
Dalam kepercayaan Buddha, Bodhisattva adalah makhluk yang telah mencapai pencerahan atau sedang dalam proses mencapainya. Koleksi miniatur lumbung juga rusak parah.
“Koleksi wastra batik juga turut dijarah,” jelas Dhito.
Pada Sabtu (30/8) lalu, Kediri memang bak berubah menjadi lautan api. Aksi demo yang awalnya dilakukan di depan
Mapolres Kediri Kota berujung pembakaran dan penjarahan sejumlah kantor pemerintahan.
Tak hanya DPRD Kota dan Kabupaten Kediri, kantor Pemkab Kediri, Samsat Kabupaten Kediri, dan sejumlah pos polisi juga dirusak dan dibakar. Si jago merah baru bisa ditaklukkan Minggu (31/8) subuh.
Kantor Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana dan Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa termasuk yang ikut terbakar. Begitu pula kantor 18 OPD.
Simbol Memori Kolektif
Dari Jakarta, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut museum bukan hanya ruang koleksi benda bersejarah, tapi juga simbol memori kolektif masyarakat.
”Karena itu, segala bentuk gangguan dan vandalisme terhadap museum adalah kerugian besar bagi bangsa,” katanya dalam keterangan tertulis.
Atas kondisi tersebut, Fadli Zon mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta pengelola museum, untuk memastikan keamanan dan perlindungan koleksi. Pihaknya juga akan terus memantau perkembangan dan memastikan Museum Bagawanta Bhari Kediri dapat kembali berfungsi secara optimal sebagai ruang pembelajaran, wisata budaya, dan pelestarian budaya.
”Langkah-langkah pemulihan juga akan segera dilakukan,” sambungnya.
Berharap Dikembalikan
Dhito berharap benda yang diambil dari Bagawanta Bhari bisa dikembalikan, sebab kandungan sejarahnya tak ternilai harganya.
”Karena ini peninggalan benda bersejarah, cagar budaya, mohon bagi oknum-oknum yang kemarin mengambil, silakan dikembalikan, ditaruh di pemkab. Peninggalan ataupun cagar budaya memiliki nilai sejarah, jadi sangat tidak pantas menjadi sasaran penjarahan,” jelasnya.
Pantauan Radar Kediri, kerusakan terlihat pada seluruh kaca, lemari, dan etalase. Beberapa artefak sudah diamankan. Namun, masih ada pula arca-arca besar yang masih di lokasi.
”Ada yang melihat penjarah itu sempat beberapa kali mencari-cari di dalam, mungkin dikiranya ada peninggalan emas,” terang Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbud Kabupaten Kediri Eko Priatno Triwarso.
Beruntung, Bodhisattva berhasil diamankan saat kericuhan, meski mengalami sedikit kerusakan berupa boncel. ”Saya instruksikan, artefak yang sekiranya bisa diangkut untuk diamankan. Untuk yang batu-batu besar, sementara tidak apa-apa,” jelas Plt Kepala Disparbud Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi. (***)
Reporter : Asad M.S–Zalzilatul Hikmia
Editor : RYAN AGUNG