Buka konten ini

DOHA (BP) – Israel mengerahkan 15 jet tempur untuk menyerang sejumlah bangunan di Doha, Qatar, yang menjadi tempat tinggal anggota Hamas, Selasa (9/9). Lima orang dilaporkan tewas. PBB mengecam gempuran itu karena bentuk pelanggaran kedaulatan dan integritas Qatar. Gempuran itu juga menunjukkan bahwa Israel tidak sepakat dengan Amerika Serikat (AS) yang meminta Hamas membuka kantor di Doha.
Sasaran serangan itu adalah petinggi Hamas yang tinggal di Doha. Dilansir dari BBC, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membenarkan bahwa ada serangan ke Doha. Dia berdalih, agresi itu menargetkan pemimpin senior Hamas.
Pada Selasa sore waktu setempat, ada delapan ledakan terpisah. Israel menyatakan, operasi itu melibatkan 15 jet tempur. Kepulan asap terlihat di distrik Katara. ”Serangan itu menghantam bangunan yang menjadi tempat tinggal beberapa anggota Biro Politik Hamas,” kata otoritas Qatar melalui pernyataan resmi.
Hamas menyebut lima anggotanya meninggal. Mereka adalah bagian dari delegasi negosiasi. Hamas menyebut serangan itu merupakan upaya Israel karena tidak ingin mencapai kesepakatan apapun dan menggagalkan upaya internasional. Amerika Serikat (AS) juga dituding bertanggungjawab dalam serbuan tersebut.
AS menanggapi serangan itu lewat Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt. Dia memberikan apresiasi. ”Melenyapkan Hamas adalah tujuan yang mulia,” ucapnya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk serangan tersebut. ”Itu adalah pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Qatar,” tegasnya. Dia mendesak agar seluruh pihak mendorong gencatan senjata, bukan malah menghancurkan upaya tersebut.
Dilansir dari Al Jazeera, Qatar selama ini dikenal sebagai mediator penting di Timur Tengah. Berkat hubungannya yang baik dengan berbagai pihak yang sering bertentangan, Qatar kerap menjadi tempat aman untuk membuka jalur komunikasi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO