Buka konten ini

NONGSA (BP) – Kapolda Kepri, Irjen Asep Safrudin menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga memenuhi standar gizi anak. Hal itu disampaikan saat meninjau pelaksanaan MBG di SDN 001 Sambau, Nongsa, Selasa (9/9).
“Kami dari Polda Kepri menyiapkan 12 dapur MBG sebagai kerja sama dengan Yayasan Kemala Bhayangkari. Ini bentuk dukungan Polri dalam menyukseskan program Presiden,” ujar Asep.
Ia menyebut, keberadaan MBG sangat membantu siswa. Banyak anak yang biasanya berangkat sekolah tanpa sarapan karena orang tua harus bekerja.
“Dengan MBG, mereka bisa makan bergizi di sekolah. Saya lihat sendiri betapa antusiasnya para siswa. Mereka senang, bahkan ada yang terharu,” katanya.
Polda Kepri juga melibatkan Dokkes Polri untuk mengawasi mutu makanan. Tujuannya, memastikan standar gizi MBG sesuai kebutuhan anak.
“Setiap menu tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga diperhatikan aspek keamanan pangan. Kami pastikan makanan yang tersaji aman dan sehat,” tegas Asep.
Dari sembilan dapur, kini jumlah Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) bertambah menjadi 12 titik, termasuk di Natuna, Karimun, Pulau Buru, Bintan, dan Tanjungpinang. Salah satunya dikelola langsung oleh YKB Polda Kepri.
“Kami juga memperluas ke Natuna, Karimun, Pulau Buru, Bintan, dan Tanjungpinang. Semua ini bagian dari dukungan Polri menyukseskan program Presiden,” tambahnya.
Selain itu, Ditreskrimsus Polda Kepri turut mengawasi jalannya program MBG agar sesuai tujuan. “Sampai saat ini, Alhamdulillah, belum ada laporan negatif. Semoga program ini terus berjalan sesuai yang diharapkan Presiden,” ungkap Asep.
Kepala SDN 001 Nongsa, Kamisah, menuturkan MBG membawa dampak besar bagi 810 siswanya. “Anak-anak lebih fokus belajar setelah makan. Orang tua juga terbantu karena jajanan anak berkurang,” ujarnya.
Penyaluran MBG di sekolah dilakukan empat hari dalam sepekan, Senin hingga Kamis. Makanan diantar dua kali, pukul 08.15 dan 10.15.
“Sejauh ini belum ada kendala berarti, hanya pernah sekali terlambat karena hujan deras,” katanya.
Menurutnya, tidak ada keluhan soal kualitas. “Sayur basi atau lauk berulat tidak pernah ditemukan. Hanya ada lima anak yang memang sejak kecil tidak makan nasi, jadi mereka diganti roti,” jelas Kamisah.
Salah satu siswa mengaku senang dengan menu yang disajikan. “Enak. Tapi ada juga teman yang kurang suka sayur,” ucapnya polos.
Meski tidak semua siswa menghabiskan jatah makanannya, mayoritas mengaku menikmati hidangan MBG. (***)
Reporter : Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK