Buka konten ini

GAZA (BP) – Warga Palestina di Gaza kembali dipaksa meninggalkan rumah mereka dan pindah ke bagian selatan setelah militer Israel mengeluarkan ultimatum penyerangan pada Sabtu (6/9). Sera-ngan itu ditunjukkan Israel dengan menggempur gedung-gedung tinggi di Gaza.
Dilansir dari Associated Press (AP), Minggu (7/9), kamp pengungsian sementara yang ditetapkan Israel sebagai zona kemanusiaan juga berulang kali dibom. Sebagian besar warga Palestina sudah beberapa kali mengungsi sepanjang perang Israel–Hamas yang berjalan hampir dua tahun itu. Kini, mereka mengaku tidak lagi punya tujuan. Bahkan, beberapa warga mengatakan terlalu lemah untuk kembali mengungsi karena berhari-hari tidak mendapat makanan.
“Tidak ada tempat yang benar-benar aman di Gaza,” ujar Ayman Abo Saif, salah satu warga Kota Gaza. Terlebih, lonjakan pengungsi membuat harga sewa di wilayah selatan melonjak hingga lebih dari 7 dolar AS (USD) per hari. Itu hanya untuk menyewa ruangan berukuran 25 meter persegi.
Juru Bicara Militer Israel Avichay Adraee melalui media sosial menyebut ada dua titik pengungsian di wilayah Gaza selatan yang disebut sebagai zona kemanusiaan. Yakni, tenda pengungsian di Muwasi serta sebagian wilayah Khan Younis. Termasuk kawasan Nasser Hospital, rumah sakit yang pekan lalu dihantam serangan Israel hingga menewaskan 22 orang, dengan lima jurnalis di dalamnya.
Kelompok bantuan internasional sebelumnya menyampaikan kondisi Muwasi yang minim tempat tinggal dan sanitasi, tidak ada air bersih, serta tidak ada makanan. Infrastruktur sipil di Khan Younis juga hancur akibat berbulan-bulan dibom.
Dalam upaya menguasai Gaza sepenuhnya, Israel menyerang salah satu gedung tinggi di Kota Gaza pada Sabtu (6/9). Penyerangan itu dilakukan tak lama setelah peringatan evakuasi untuk dua gedung tinggi di Kota Gaza. Israel berdalih, gempuran itu dilakukan lantaran Hamas memiliki infrastruktur di dalam atau di sekitar gedung tersebut.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga memposting video menara yang runtuh dengan keterangan: “Kami teruskan.” Serangan itu berlanjut setelah sebelumnya Israel menghantam gedung tinggi lain dengan tuduhan digunakan Hamas untuk pengintaian. Hamas membantah klaim tersebut.
Di RS Shifa, otoritas mencatat 15 korban tewas akibat serangan pada Jumat, termasuk
satu keluarga berisi lima orang di kamp pengungsi Shati, serta warga sipil yang ditembak saat mencari bantuan dekat perlintasan Zikim. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 2.000 warga tewas ketika mencari bantuan di titik distribusi atau sepanjang jalur konvoi PBB.
Di sisi lain, keluarga sandera Israel mendesak Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu lebih memperhatikan keselamatan tawanan. Mereka bahkan meminta bantuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar mempercepat proses pembebasan. Apalagi, Hamas baru-baru ini merilis video dua sandera di Kota Gaza yang membuat mereka semakin khawatir.
IGPC Menuju Gaza
Relawan WNI yang tergabung dalam Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) tiba di Tunisia. Mereka akan berlayar menuju Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dan mendesak penghentian genosida oleh Israel.
Diperkirakan ada 60 relawan dari Indonesia yang berada di Kota Tunis. Dari jumlah tersebut, 34 orang akan ikut berlayar dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) untuk menembus blokade Gaza bersama ribuan relawan lain dari 44 negara. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG