Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Harga emas dunia kembali menguat dan menembus rekor baru mendekati USD 3.600 per troy ons pada perdagangan Jumat (5/9) waktu Amerika Serikat (AS).
Reli ini dipicu data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang melemah, sehingga semakin memperbesar ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed).
Mengutip Reuters, harga emas spot tercatat naik 1,4 persen menjadi USD 3.596,49 per ons pada pukul 14.02 GMT. Bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di USD 3.596,76 per ons. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember naik 1,3 persen ke level USD 3.653,30 per ons.
Lonjakan tersebut membuat emas berada di jalur kenaikan mingguan terkuatnya dalam empat bulan terakhir. Sejak awal tahun, harga emas batangan sudah melesat 37 persen, setelah naik 27 persen sepanjang 2024.
Adapun faktor pendorongnya antara lain pelemahan dolar AS, pembelian bank sentral, hingga ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS turun tajam pada Agustus, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,3 persen.
Kondisi ini membuat pelaku pasar memperkirakan peluang 84 persen penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin dan 16 persen untuk pemangkasan 50 basis poin pada September.
“Emas mencapai titik tertinggi baru. Investor melihat tren melemahnya pasar tenaga kerja yang memicu ekspektasi banyaknya pemotongan suku bunga,” kata Tai Wong, pedagang logam independen.
Menurut Wong, prospek emas masih bullish dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, ia menilai harga emas masih jauh dari level USD 4.000 kecuali terjadi gejolak besar.
Di sisi lain, permintaan fisik emas di China dan India yang merupakan dua konsumen terbesar dunia, terpantau menurun akibat harga yang terlalu tinggi.
Meski begitu, perhatian investor juga tertuju pada data cadangan emas bank sentral China bulan Agustus yang akan dirilis Minggu mendatang.(*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY