Buka konten ini

Keindahan panggung raksasa langit malam ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, seringkali menghadirkan kejutan dan decak kagum. Salah satunya adalah gerhana bulan total. Visual langka yang kadang sering disebut bulan merah atau blood moon.
PANGGUNG raksasa langit malam, sering kali menghadirkan pertunjukan visual yang langka dan menakjubkan. Satu di antaranya adalah fenomena gerhana bulan total yang merupakan tanda kebesaran dan kuasa Ilahi. Pertunjukan kuasa Ilahi ini akan terjadi pada Senin (8/9).
Masyarakat di seluruh penjuru negeri termasuk Kepri dan Tanjungpinang, berkesempatan menyaksikan fenomena gerhana bulan total atau yang populer disebut bulan merah atau blood moon. Secara astronomi dan sains, gerhana bulan total terjadi ketika bumi berada tepat di antara matahari dan bulan.
Posisi ini membuat cahaya matahari yang seharusnya langsung menyinari permukaan bulan terhalang oleh bumi. Namun, sinar matahari tidak sepenuhnya hilang. Atmosfer bumi membiaskan cahaya, lalu memantulkan cahaya merah jingga ke permukaan bulan.
Akibatnya, bulan akan tampak berwarna merah, seolah-olah tampak seperti terbakar api.
Fenomena bulan berwarna merah ini dapat disaksikan tanpa alat bantu khusus. Cukup cari lokasi dengan langit cerah dan pandangan terbuka. Tidak berbahaya bagi mata seperti gerhana matahari, sehingga bisa dinikmati secara langsung.
Selain menjadi momen visual yang langka dan menakjubkan, gerhana bulan total juga sarat makna.
Masyarakat khususnya umat Islam, lebih melihatnya sebagai bukti keteraturan jagat raya dan kuasa Allah yang dapat diprediksi dengan ilmu pengetahuan. Momen gerhana bulan total ini juga menjadi pengingat akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas.
Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah dan menyatukan rasa takjub terhadap alam semesta dengan ketaatan yang mendalam kepada Sang Pencipta Sehingga, munculnya gerhana bulan total Senin (8/9) atau 15 Rabi’ul Awal 1447 Hijriah ini, patut disyukuri oleh umat Islam dengan banyak berdoa dan melaksanakan salat sunah gerhana.
Tidak hanya itu, komunitas fotografer dan pemburu cahaya, biasanya menjadikan peristiwa fenomena langit seperti ini sebagai ajang edukasi dan kebersamaan hingga memotret bersama-sama di lokasi yang telah ditentukan. Persiapan kamera dengan peralatan lengkap lainnya hingga sekadar duduk bersama sambil menatap langit, menjadi cara sederhana untuk merekam momen langka di panggung raksasa langit malam.
”Insya Allah, sebelum motret, kami salat gerhana dahulu, setelah itu baru motret gerhana bulan total,” kata fotografer lokal, Albet Dzikri, Jumat (5/9).
Seingatnya, kata Albet, gerhana bulan total atau blood moon, terjadi di langit Tanjungpinang pada bulan Januari tahun 2018 silam. Saat itu ia mengaku melewatkan momen visual langka yang terjadi beberapa tahun sekali itu.
”Semoga nanti cuaca cerah, jadi kami bisa memotret momen kuasa Allah yaitu gerhana bulan total dengan jelas,” ujarnya.
Gerhana bulan total atau blood moon, akan menjadi pengingat bahwa alam semesta selalu punya cara untuk membuat manusia takjub dan bersyukur, sebab panggung raksasa langit malam, tidak pernah gagal mengundang decak kagum.
Blood Moon dan Fenomena Banjir Rob
Menurut prediksi dan pengamatan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fase gerhana bulan total atau blood moon, dimulai pada 7-8 September. Fenomena alam ini, dapat disaksikan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Tanjungpinang.
Gerhana bulan sebagian akan dimulai pada 7 September sekitar pukul 22.30 WIB. Durasi gerhana bulan total atau blood moon, Senin (8/9), akan berlangsung di langit malam selama 1 jam 22 menit, mulai sekitar pukul 00.30-01.53 WIB. Saat puncaknya, bulan akan tampak merah karena hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.
Fenomena ini dapat dinikmati dengan mata telanjang, teleskop dan kamera, jika langit cerah. ”Pengamatan gerhana bulan total dilakukan oleh Direktorat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG pusat,” kata Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Vivi Putrima, Jumat (5/9).
Menurut Vivi, selain terjadinya fenomena gerhana bulan total atau blood moon, fenomena lain seperti banjir rob (air laut pasang tinggi), juga diprediksi terjadi di sejumlah kawasan pesisir di Kepulauan Riau. Potensi banjir rob pada 2-14 September, dipicu oleh adanya fase bulan purnama (gerhana bulan total) pada 7-8 September 2025 serta jarak terdekat bulan dengan bumi, Rabu (10/9).
“Kondisi ini dapat meningkatkan ketinggian pasang maksimum air laut, sehingga wilayah pesisir di Tanjungpinang, Bintan, Batam, Lingga dan Karimun, berisiko terdampak banjir rob,” jelas Vivi.
BMKG Tanjungpinang menyatakan dampak yang mungkin terjadi dari fenomena ini menyebabkan aktivitas masyarakat di pelabuhan terganggu. Proses bongkar muat barang di pelabuhan melambat, pemukiman pesisir berisiko terendam hingga aktivitas perikanan darat, bisa terdampak.
“Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir diimbau untuk waspada terhadap potensi banjir rob,” imbau Vivi. (***)
Reporter : Yusnadi Nazar
Editor : RYAN AGUNG