Buka konten ini

Jakarta (BP) — Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah penurunan suku bunga acuan.
Namun, BI juga melakukan aksi dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN). Hingga per Senin (1/9), otoritas moneter itu telah memborong SBN sebesar Rp200 triliun di pasar sekunder.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, pembelian SBN itu merupakan sinergi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
“Kami telah membeli SBN sebesar Rp200 triliun. Data itu terbaru kemarin (1/9) termasuk untuk debt switching,” ujar Perry pada rapat bersama dengan DPD secara virtual Selasa (2/9).
Sebagian dana yang dihimpun dari pembelian SBN, lanjut Perry, untuk pendanaan program-program ekonomi kerakyatan dalam Asta Cita. Seperti perumahan rakyat hingga Koperasi Desa Merah Putih. Surat utang yang diterbitkan pemerintah itu menjadi salah satu instrumen pembiayaan dari APBN.
Mekanisme sinergi dengan pemerintah itu adalah burden sharing atau pembagian beban bunga. Burden sharing telah dimulai antara BI dan pemerintah sejak 2020 ketika dunia dilanda pandemi Covid-19.
Total nilai pembelian surat utang pemerintah oleh BI itu meningkat dari data per 19 Agustus 2025 lalu. Pada saat itu, pemerintah sudah memborong SBN dengan nilai Rp186,06 triliun. Rinciannya, pembelian dari pasar sekunder sebesar Rp137,8 triliun, dan pasar primer dalam bentuk surat perbendaharaan negara (SPN) termasuk syariah Rp48,26 triliun.
Selain pembelian SBN maupun kebijakan suku bunga, bank sentral turut menempuh kebijakan mengguyur insentif likuiditas makroprudensial kepada perbankan. Tujuannya agar bisa mendorong penyaluran kredit.
“Kami telah menambah insentif sebesar Rp384 triliun untuk sektor-sektor seperti investasi pertanian, perumahan, UMKM, dan ekonomi inklusif lainnya,” imbuhnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : Iman Wachyudi