Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Warga negara (WN) Tiongkok (China) tercatat mendominasi izin tinggal di Batam. Data Kantor Imigrasi Kelas I TPI Batam menyebut, jumlahnya mencapai 5.000 hingga 6.000 orang, mayoritas untuk urusan bisnis dan pekerjaan.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Batam, Hajar Aswad, mengatakan tren tersebut mencerminkan peran Batam sebagai destinasi utama investasi dan lapangan kerja bagi ekspatriat.
“Yang paling banyak saat ini China. Disusul oleh India, lalu Malaysia,” ujar Hajar, Selasa (2/9).
Berbeda dengan WN Singapura yang sebagian besar hanya tercatat sebagai wisatawan mancanegara (wisman), WN China banyak yang menetap lebih lama karena alasan usaha maupun pekerjaan. Meski demikian, tidak semua izin tinggal bersifat jangka panjang.
“Tidak semuanya long lasting atau lama di sini. Ada juga yang hanya sementara untuk urusan bisnis,” jelasnya.
Hajar menambahkan, izin tinggal yang diberikan bervariasi sesuai tujuan kedatangan, mulai dari investor, pekerja, hingga pelaku usaha.
Jemput Bola Mudahkan Izin Tinggal WNA
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam terus berinovasi menghadirkan layanan publik yang cepat dan adaptif. Melalui program terbaru bernama IMMIcare, imigrasi turun langsung ke kawasan industri untuk memberikan layanan izin tinggal bagi Warga Negara Asing (WNA), tenaga kerja asing (TKA), dan investor.
Peluncuran perdana berlangsung di Kawasan Industri Batamindo, Selasa (1/9), sebelum nantinya diperluas ke Kawasan Panbil dan Kabil. Kepala Kantor Imigrasi Batam, Hajar Aswad, menyebut IMMIcare sebagai pengembangan dari konsep jemput bola Eazy Paspor yang sebelumnya ditujukan bagi WNI.
“Kalau WNI sudah kita mudahkan lewat Eazy Paspor, maka WNA juga harus mendapat pelayanan serupa. Apalagi Batam adalah kota investasi, jadi kurang tepat kalau investor asing masih harus antre satu per satu di kantor imigrasi,” kata Hajar.
Selain izin tinggal, IMMIcare juga menghadirkan coaching clinic berupa penyuluhan keimigrasian. Pendekatan ini memberi kesempatan perusahaan memahami aturan, fasilitas, hingga program visa jangka panjang seperti Golden Visa lima tahun bagi pimpinan perusahaan asing beserta keluarganya.
“Kami ingin menghadirkan imigrasi yang humanis. Bukan lagi datang mendadak untuk memeriksa, tetapi memberi informasi dan mendampingi agar semua pihak nyaman,” tambah Hajar.
Ia menegaskan, keberhasilan IMMIcare bergantung pada kerja sama dengan pengelola kawasan industri. Jika evaluasi di tiga lokasi awal dinilai positif, program ini akan diperluas ke seluruh kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam.
“Target kami, Batam bisa menjadi pilot project layanan izin tinggal jemput bola untuk WNA di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Kepala Bidang Dokumen Perjalanan dan Izin Tinggal Kanwil Direktorat Jenderal Imigrasi Kepri, Wira Zulfikar, menilai IMMIcare sebagai terobosan menghadirkan kepastian hukum sekaligus menekan biaya dan waktu yang selama ini menjadi kendala bagi investor maupun pekerja asing.
“Imigrasi tidak lagi menunggu, tapi hadir langsung di pusat kegiatan ekonomi. Ini langkah penting agar layanan lebih efisien dan efektif,” ujarnya.
General Manager PT Batamindo, Mook Sooi Wah, menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, IMMIcare akan memperkuat iklim usaha sekaligus meningkatkan produktivitas kawasan industri.
“Program ini akan mengurangi hambatan investasi, mempercepat layanan, dan memberi manfaat nyata bagi semua pihak,” katanya. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK