Buka konten ini

Muda dan berbakat. Itulah kesan pertama saat menyaksikan penampilan Jozsua Danneil Lumunon, drummer remaja asal Batam. Kecintaannya pada drum membawanya tampil di ajang Road to Sea Jazz Blossoms.
SABTU (30/8) malam itu, dentuman ritmis drum di sebuah kafe kawasan Batamkota tak sekadar mengisi panggung. Dari balik set drum, seorang remaja berseragam kasual duduk tegap, tangannya menari cepat di atas snare, tom, dan cymbal. Ia adalah Luke Jozsua Danneil Lumunon, pelajar kelas IX SMP Global-Indo Asia, yang malam itu unjuk kebolehan dalam perhelatan Road to Sea Jazz Blossoms.
Sekilas, tak ada yang menyangka ketukan beat matang, penuh dinamika, dan kaya improvisasi itu lahir dari seorang pemain seusianya. Tepuk tangan penonton menegaskan: Jozsua bukan sekadar “anak band sekolah”. Ia adalah bakat yang ditempa dengan jam terbang, ketekunan, dan kecintaan pada musik.
Didampingi kedua orang tuanya, Jozsua mengenang perjalanannya menabuh drum sejak usia tiga tahun. “Awalnya hanya main-main, lama-lama dia tekun latihan sendiri. Kami bukan keluarga musisi, tapi melihat minatnya, kami dukung penuh,” kata sang ibu, Gina, Sabtu (30/8).
Dukungan itu berbuah prestasi internasional. Pada 2023, Jozsua menorehkan catatan manis dengan meraih juara kategori open di Asia Pasifik Drum Competition, Hongkong. “Kami sengaja ikutkan dia di kategori open, bukan anak-anak. Jadi lawannya drummer yang sudah matang. Ternyata dia bisa bersaing,” ujar Gina.
Saat itu, Jozsua berhadapan dengan pesaing dari Thailand hingga Tiongkok, mewakili Indonesia di panggung Asia. Bakat dan disiplin berbuah deretan kemenangan lain: Rockfest Malaysia 2024, DrumIt Competition Singapore 2024, hingga Asian Supreme Drum Competition 2022. Prestasinya menegaskan, panggung internasional kini bukan lagi hal asing bagi remaja kelahiran Singapura, 15 Juni 2011, ini.
Meski masih belia, Jozsua sudah berguru pada nama-nama besar. Dari Mike Mangini (eks Dream Theater), Gilang Ramadhan, hingga Tommy Sirait, ia menyerap teknik, disiplin, sekaligus filosofi bermain drum. Pendidikan musik formal pun ia tempuh: Purwacaraka Music School, Yamaha Music School, hingga sertifikasi drum dari Rockschool RSL.
Namun yang membuatnya berbeda, ia tidak membatasi diri hanya pada jazz. Rock progresif, fusion, hingga funk juga ia eksplorasi. “Dengan begitu, khazanah musiknya semakin luas,” kata sang ayah.
Selain kompetisi, Jozsua juga kenyang pengalaman live. Ia pernah membawakan standar jazz bersama Sambal Ijo Quartet di Maduro Jazz Bar, Singapura, hingga tampil bersama Flatnine Quartet feat. Cheppy Soekardi di Bajafash International Jazz Festival 2023–2024. Bahkan di International Jazz Day 2024, ia beraksi dengan Tanaka Manalu Project.
Kini, Jozsua tengah bersiap bersama band-nya sendiri, berencana kembali ke panggung Bajafash tahun ini. “Kami hanya ingin dia menikmati prosesnya. Musik sudah jadi bagian hidupnya,” ujar sang ibu.
Di usianya yang masih 14 tahun, Jozsua sudah menyandang predikat Ambassador Asia Pacific Drum Festival 2025 dan bahkan dipercaya menjadi juri termuda di ajang drum nasional Indonesia 2025.
Ketukan drumnya seakan menegaskan: usia hanyalah angka, sementara ritme adalah bahasa universal. Dari Batam menuju panggung Asia, Jozsua menuliskan kisahnya sendiri—kisah tentang mimpi, disiplin, dan keberanian mengukir tempo hidup dengan stik drum di tangan. (***)
Reporter : Azis Maulana
Editor : RYAN AGUNG