Buka konten ini

BEIJING (BP) – Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menegaskan kelanjutan kemitraan erat mereka dalam pertemuan bilateral di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, Senin (1/9).
Xi menekankan perlunya negara-negara anggota SCO memperkuat solidaritas di tengah situasi global yang disebutnya semakin kacau. Dia menyerukan penolakan terhadap mentalitas perang dingin, menegaskan pentingnya multipolarisasi dunia, serta tata kelola global yang lebih adil. “Situasi internasional global menjadi semakin kacau dan saling terkait. Tugas keamanan dan pembangunan yang dihadapi negara-negara anggota menjadi semakin menantang,” ujar Xi.
Salurkan 2 Miliar Yuan
Sebagai bentuk dukungan, Tiongkok akan menyalurkan bantuan gratis senilai 2 miliar yuan pada 2025 serta menyediakan pinjaman tambahan 10 miliar yuan melalui konsorsium perbankan SCO.
Pertemuan Xi dan Putin berlangsung setelah Putin menegaskan bahwa forum SCO berperan memperkuat solidaritas di kawasan Eurasia sekaligus mendorong tatanan dunia multipolar yang lebih adil.
Moskow Bergantung Beijing
Pengamat politik internasional dari Universitas Tokyo, Lim Chuan-Tiong, menilai pertemuan kedua pemimpin menjadi simbol keberlanjutan kemitraan tanpa batas Tiongkok-Rusia untuk melawan Amerika Serikat (AS) sebagai musuh bersama. “Selama lawan bersama belum dikalahkan, kerja sama Tiongkok dan Rusia yang terlarang akan tetap ada,” katanya.
Menurut Lim, Rusia semakin bergantung pada dukungan Tiongkok di tengah perang Ukraina yang berlarut-larut. Sementara Beijing, meski mengaku netral, tetap menjadi penyokong ekonomi utama bagi Moskow.
KTT SCO tahun ini dihadiri lebih dari 20 pemimpin dunia, termasuk Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Forum yang berdiri sejak 2001 tersebut kerap dipandang sebagai alternatif tata kelola global non-Barat, berhadapan dengan aliansi tradisional seperti NATO. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO