Buka konten ini

MILAN (BP) – Julukan Swarovski kepada Cristian Chivu seperti sahih ketika Inter Milan memainkan sepak bola indah saat menang 5-0 atas Torino dalam giornata pertama Serie A musim ini (26/8). Namun, dalam giornata kedua kemarin (1/9), Chivu sudah menelan kekalahan bersama Inter. Di kandang sendiri, Stadio Giuseppe Meazza, Nerazzurri – sebutan Inter – diperdaya Udinese 1-2.
Kekalahan yang seolah menampar Chivu karena hanya Frank de Boer yang puya catatan lebih buruk saat menerima kekalahan pertama sebagai allenatore Inter dalam sedekade terakhir. De Boer keok dalam debut pada giornata pertama Serie A 2016–2017.
Strategi Mudah Ditebak
Keputusan Chivu tetap mempertahankan skema main allenatore pendahulunya, Simo-ne Inzahgi, 3-5-2, semula dianggap sebagai pilihan bijak. Sebab, Lautaro Martinez dkk sudah memainkannya selama empat tahun terakhir. Akan tetapi, skema tersebut sekaligus boomerang karena Chivu tidak memberikan improvisasi. Alhasil, lawan bisa meredamnya karena strategi yang mudah ditebak.
”Inter menjadi tim yang mudah ditebak. Chivu seharusnya membawa sesuatu yang bagus meski dia tidak dipersenjatai (skuad) dengan baik,’’ kata analis Serie A Filippo Tramontana seperti dilansir FC Inter News.
Berbicara kepada DAZN, Chivu mengakui bahwa antara dia dan anak asuhnya masih meraba-raba strategi terbaik. ’’Saat ini kami masih dalam proses. Musim ini masih panjang,’’ kata pelatih 44 tahun asal Rumania tersebut.
Saat tertinggal 1-2 lawan Udinese, pada babak kedua, Chivu mengubah formasi 3-4-2-1 menjadi 4-2-4. Artinya, semua striker Inter ada di lapangan. Lautaro Martinez dan Marcus Thuram yang main sejak menit awal mendapatkan dukungan dari Ange Yoan-Bonny dan Francesco Pio Esposito.
Akan tetapi, tetap tidak ada gol kedua untuk Inter. ”Kami mencoba segala cara untuk menyamakan kedudukan, termasuk memanfaatkan tinggi badan Pio (191 sentimeter) untuk menangkap beberapa umpan silang, tetapi pertahanan Udinese bermain gemilang dalam duel udara,” beber Chivu.
Diakuinya, variasi serangan Inter belum maksimal. Hanya satu gol dari 16 tembakan. Berbanding lima gol dari 20 tembakan saat kontra Torino. ’’Kami perlu bergerak lebih banyak, melakukan serangan yang berbeda di laga-laga ke depan,’’ sambung mantan pelatih Parma Calcio tersebut.
Ditunggu Derby d’Italia
Chivu beruntung kompetisi jeda selama dua pekan karena agenda internasional. Meski begitu, Inter ditunggu lawan berat dalam giornata ketiga (14/9). Nerazzurri menghadapi Juventus dalam laga bertajuk Derby d’Italia. Saat ini, Juve sekaligus capolista (pemuncak klasemen) setelah menyapu bersih dua giornata awal. ”Kami perlu menemukan kembali motivasi, antusiasme, dan hasrat untuk bermain baik seperti yang kami miliki sebelumnya (lawan Torino),” ucap Chivu. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG