Buka konten ini


CUACA ekstrem yang melanda Kepri dalam beberapa hari terakhir membawa dampak serius bagi warga. Rumah roboh, pompong terbalik, hingga pohon tumbang mewarnai di sejumlah wilayah, Senin (1/9) pagi.
Duka mendalam dirasakan keluarga Masrohadi, warga Dusun Desan, Desa Air Bini. Rumah mereka rata dengan tanah setelah dihantam angin kencang dan gelombang besar.
Keluarga yang terdiri dari pasangan suami-istri dan tiga anak itu kini terpaksa menumpang di rumah dinas kesehatan desa. Itupun baru bisa ditempati setelah warga bergotong royong membersihkan dan menyiapkannya.
Sejumlah warga menyayangkan respons lamban pemerintah desa. “Ini kan warga kita sendiri. Seharusnya kepala desa cepat tanggap, jangan hanya ikut mendampingi saat pihak lain memberi bantuan,” keluh seorang tokoh masyarakat setempat.

Hingga kini, bantuan paling nyata justru datang dari kepolisian dan para tetangga. Mereka menggalang donasi demi meringankan beban keluarga korban.
Menanggapi kritikan itu, Kepala Desa Air Bini, Landa, menegaskan pihaknya tidak tinggal diam. “Sejak rumah roboh, perangkat desa bersama warga langsung mengevakuasi barang-barang korban. Kami juga sudah menyalurkan sembako, peralatan memasak, dan perlengkapan sekolah,” jelasnya.
Landa menambahkan, pemerintah desa terus berkoordinasi dengan instansi terkait agar bantuan tambahan segera turun. “Kami tidak akan membiarkan warga menghadapi musibah ini sendirian,” tegasnya.
Tak hanya di Anambas saja dilanda cuaca ekstrem. Hujan deras disertai petir, kilat, dan angin kencang juga kembali mengguyur Tanjungpinang, Senin pagi. BMKG Tanjungpinang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Waspada potensi awan cumulonimbus yang bisa menimbulkan hujan lebat, petir, dan angin kencang. Paling sering terjadi pada pagi, siang, dan dini hari,” ujar Prakirawan BMKG, Vivi Putrima.
Kesiagaan juga dilakukan BPBD Tanjungpinang. Kepala BPBD, Muhammad Yamin, menyebut pihaknya sudah menyiagakan personel. “Kami imbau masyarakat berhati-hati, terutama yang beraktivitas di luar ruangan. Semoga tidak ada bencana besar terjadi,” katanya.
Cuaca ekstrem yang melanda Tanjungpinang juga hampir menelan korban, tepatnya di perairan Penyengat misalnya. Kecemasan warga semakin nyata ketika sebuah pompong tujuan Pulau Penyengat terbalik di perairan Senggarang. Kapal kayu milik Kantor Kelurahan Penyengat itu oleng setelah dihantam angin kencang disertai gelombang tinggi.
“Anginnya datang tiba-tiba, langsung menghantam pompong sampai terbalik. Penumpang panik, sebagian berpegangan pada badan pompong, tapi syukurlah semua selamat,” tutur Murdani, warga Penyengat yang melihat kejadian.
Kapal tersebut sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Penyengat ke Senggarang menjemput pegawai kelurahan usai apel pagi di Kantor Wali Kota Tanjungpinang. Hingga kini, pihak berwenang masih mendata jumlah penumpang serta memeriksa kondisi pompong.
Pohon Tumbang di Toapaya
Di Toapaya, hujan deras disertai angin kencang menumbangkan pohon dan menimpa rumah Misadiah, warga Kampung Jawa RT 003 RW 001. Insiden terjadi sekitar pukul 09.40 WIB.
“Pohon di belakang rumah tiba-tiba tumbang dan menimpa atap. Untungnya Bu Misadiah selamat, karena anak-anaknya sedang bekerja,” kata Alex, tetangga korban.
Sekretaris BPBD Bintan, Agus Ariyadi, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut, kerusakan rumah juga dilaporkan di Kijang dan beberapa kecamatan lain. “Kami masih melakukan pendataan. Warga diimbau waspada, terutama yang rumahnya dekat pohon besar,” ujarnya.
Agus menyarankan warga menebang pohon rawan tumbang demi menghindari risiko serupa. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
slamet nofasusanto
Editor : GALIH ADI SAPUTRO