Buka konten ini
KETUA Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk merumuskan langkah mitigasi yang diperlukan di tengah situasi tanah air belakangan ini.
Ia menambahkan, Hippindo menjalankan peran sebagai jembatan aspirasi industri ritel dan penyewa pusat perbelanjaan.
“Kami berusaha menjaga keberlangsungan ekonomi, sebab retil dan pusat perbelanjaan adalah penggerak ekonomi nasional. Ekonomi ritel melibatkan jutaan karyawan, tenaga penjualan, sopir, logistik, hingga mitra transportasi daring atau ojol,” urainya.
Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menegaskan, pusat perbelanjaan sebagai salah satu fasilitas publik akan tetap mengupayakan agar dapat terus beroperasi melayani kebutuhan masyarakat. Namun, tentunya, dengan tetap mengutamakan dan mengedepankan faktor kenyamanan serta, terutama, faktor keamanan pengunjung.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan semua pihak agar bersikap tenang dan bekerja sama di tengah unjuk rasa yang terjadi belakangan ini. Sebab, kerusuhan dan vandalisme bisa memicu dampak negatif terhadap perekonomian.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menyampaikan, tantangan ekonomi saat ini harus dihadapi bersama, dengan menjaga situasi keamanan. Itu agar semua orang bisa kembali bekerja dan melakukan aktivitas.
Pihaknya juga mengimbau para penyelenggara negara segera membuka dialog dengan kelompok masyarakat yang menyampaikan aspirasi. “Hanya lewat dialog yang saling menghargai, para pembawa aspirasi bisa memahami aspirasi yang bisa dikabulkan dan yang belum bisa dikabulkan. Kedepankan gotong royong dalam setiap dialog,” urainya.
Kadin turut meminta para penyelenggara negara agar semua kebijakan, pernyataan, dan tindakan sungguh memperhatikan kondisi riil yang dihadapi masyarakat saat ini. Seperti psikologi masyarakat yang sedang diimpit kesulitan ekonomi, pendapatan yang minim, biaya hidup yang meningkat, kondisi ketenagakerjaan yang sedang sulit, dan kesenjangan sosial yang masih cukup lebar.
Gejolak yang terjadi di dalam negeri memberikan sentimen pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG sempat melorot tajam 2,27 persen atau 180,81 poin ke level 7.771,28 pada akhir perdagangan sesi I, sebelum akhirnya ditutup di posisi 7.830,49 pada Jumat lalu (29/8). IHSG sempat bergerak dari level tertinggi 7.952 hingga terendah 7.767 setelah dibuka di level 7.952.
Tekanan jual melanda hampir seluruh sektor. Dari 11 indeks sektoral BEI, 10 kompak terbenam di zona merah. Sektor siklikal memimpin pelemahan dengan anjlok 4,69 persen, disusul infrastruktur 3,50 persen, barang baku 3,47 persen, properti 3,41 persen, energi 2,77 persen, keuangan 2,55 persen, teknologi 2,47 persen, transportasi 1,79 persen, kesehatan 1,76 persen, dan konsumen non-siklikal 1,70 persen. Hanya sektor industri yang bertahan, menguat tipis 0,13 persen. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO