Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Biaya integritas visa (visa integrity fee) sebesar USD 250 atau sekitar Rp4 juta yang dikenakan kepada wisatawan ke Amerika Serikat (AS) per 1 Oktober nanti berisiko menambah tekanan pada industri perjalanan.
Hal itu mengacu jumlah kedatangan turis ke AS yang menurun akibat tindakan keras Presiden Donald Trump terhadap imigrasi.
Menurut data pemerintah AS, seperti dilansir Reuters Minggu (31/8), perjalanan luar negeri ke Negeri Paman Sam turun 3,1 persen sepanjang Juli 2025 menjadi 19,2 juta orang. Itu merupakan bulan penurunan kelima pada tahun ini. Kondisi tersebut jelas tidak sejalan dengan AS yang menginginkan jumlah turis sepanjang tahun ini bakal melampaui jumlah turis sebelum pandemi Covid-19, yakni 79,4 juta orang per tahun.
Pelajar Bayar Rp 8,7 Juta
Biaya integritas visa akan membuat AS sebagai negara dengan biaya visa termahal di dunia. Sebut saja biaya paling ”murah” untuk visa pelajar yang mencapai USD 535 (Rp8,7 juta).
Biaya visa baru sekaligus menambah tantangan bagi wisatawan dari negara-negara yang tidak mendapatkan pembebasan visa seperti Meksiko, Argentina, India, Brasil, dan Tiongkok.
”AS selalu selektif dalam memilih pengunjung. Jika kondisi keuangan Anda tidak memadai, maka mendapatkan visa akan sulit,” sahut Su Shu, pendiri perusahaan Tiongkok Moment Travel di Chengdu.
Keluhan dari Asosiasi
Keluhan pun disuarakan anggota Asosiasi Perjalanan AS. ”Setiap hambatan yang kita tambahkan pada pengalaman wisatawan akan mengurangi volume perjalanan,” kata Gabe Rizzi, presiden Altour, sebuah perusahaan manajemen perjalanan global.
Biaya integritas visa juga muncul ketika AS memiliki hajatan besat seperti Piala Dunia FIFA 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028.
Dikhawatirkan ”Berbalas”
Seiring wisawatan ke AS menghadapi biaya masuk lebih tinggi, wisatawan AS balik mengkhawatirkan tentang persyaratan lebih ketat terhadap mereka saat ke luar negeri. Seperti yang diungkapkan James Kitchen, agen perjalanan dan pemilik Seas 2 Day & Travel.
”Para wisatawan juga telah menyatakan kekhawatiran tentang biaya timbal balik yang mungkin dikenakan,” jelas Kitchen. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO