Buka konten ini


Anambas (BP) – Malam tenang di Desa Air Bini, Kamis (29/8) sekitar pukul 19.30 WIB, berubah mencekam bagi keluarga Masruhadi, 38. Rumah kayu sederhana yang ia tempati bersama istri dan anaknya tiba-tiba ambruk dihantam gelombang laut.
Masruhadi, seorang nelayan, awalnya tengah duduk santai bersama istrinya yang hamil tujuh bulan dan seorang anak mereka. Sejak siang, angin memang kencang dan gelombang tak bersahabat. Namun tak ada firasat buruk, sampai tiba-tiba salah satu tiang penyangga rumah bergeser dan menyeret seluruh bangunan kayu ke laut.
“Tak sempat pikir apa-apa. Saya langsung cari istri, selamatkan, bawa naik ke darat,” tutur Masruhadi dengan suara bergetar saat ditemui Kapolres Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, Jumat (29/8).
Di tengah kepanikan, hanya satu hal yang ada di benaknya, menyelamatkan istri dan anak. Semua barang rumah lenyap bersama gelombang. Listrik padam seketika, menyisakan kegelapan, tangisan, dan detak jantung yang berpacu dengan waktu.
“Semua barang habis. Rumah ambruk, listrik langsung mati. Saya cuma pikir anak istri saja,” katanya sambil menahan air mata.
Beruntung, sang istri segera mendapat pertolongan bidan desa. Kondisi kandungan dinyatakan aman, tanpa kontraksi maupun luka serius. Meski begitu, rasa syok jelas tergambar di wajahnya.
Kini, yang tersisa di lokasi kejadian hanya tiang pancang yang berdiri sendiri. Reruntuhan itu menjadi saksi bisu rapuhnya kehidupan di tepian laut.
Kapolres Anambas yang datang bersama istrinya bukan hanya meninjau, tapi juga menguatkan hati keluarga korban. Ia menyerahkan bantuan sembako dan uang tunai.
“Karena laporan dari anggota, istri korban ini sedang hamil. Jadi saya dan istri sekalian mau lihat kondisinya,” ujarnya. Ia juga memastikan dokumen keluarga yang hilang akibat musibah akan dibantu proses pengurusannya.
Masruhadi kini kehilangan tempat tinggal, tetapi masih bersyukur. Di balik gelombang yang melahap rumah dan kenangannya, Tuhan masih menyelamatkan hal terpenting, nyawa istri dan anaknya.
Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat keluarga itu kini tercatat sebagai malam penuh luka, sekaligus malam tentang cinta, keberanian, dan doa. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO