Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Indonesia harus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Strateginya dengan kebijakan countercyclical moneter maupun fiskal. Oleh karena itu, percepatan realisasi belanja pemerintah dan kebijakan moneter yang akomodatif perlu dilakukan, meski tantangan perekonomian global masih ada.
”Kami melihat ada satu kali lagi ruang pemangkasan BI rate di tahun ini. Kebijakan fiskal kami meyakini di semester II akselerasi belanjanya akan relatif lebih cepat. Itu yang akan berdampak kepada pertumbuhan (ekonomi) dan likuiditas perbankan,” kata Chief Econonist Bank Mandiri Andry Asmoro dalam Economic Outlook Q3 2025, Kamis (28/8).
Dampak kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) tidak hanya terasa secara langsung tapi juga melalui jalur tidak langsung seperti masuknya produk-produk Tiongkok ke pasar domestik. Mengingat, Negeri Panda itu juga kesulitan memasuki market AS.
Meskipun demikian, pria yang akrab disapa Asmo itu melihat peluang peluang ekspor selain dari batu bara dan crude palm oil (CPO). Seperti kopi, coklat, dan kelapa yang tren harga dan permintaannya sedang tinggi.
“Komoditas itu akan bisa menyokong neraca perdagangan Indonesia di tengah ketidakpastian global,” tuturnya.
Di tengah tensi geopolitik yang meningkat, terutama di kawasan Eropa Timur dan Timur Tengah, Asmo mencatat ada dampak ganda bagi perekonomian. Yakni, memberikan aspek positif yang menaikkan harga-harga komoditas yang menjadi substitusi dari harga minyak.
“Biasanya komoditas tersebut adalah unggulan dari ekspor Indonesia,” ujarnya.
Proyeksi Pertumbuhan
Sementara itu, Direktur Treasury and International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi memproyeksi ekonomi Indonesia 2025 berpeluang tumbuh di 4,9 hingga 5,1 persen. Hal itu sejalan dengan perekonomian yang menunjukkan ketahanan kuat di tengah dinamika global hingga kuartal II 2025.
“Selama stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi terjaga di kisaran target. Yang tak kalah penting akselerasi realisasi belanja pemerintahagar dapat menjadi bantalan bagi perekonomian dalam menghadapi ketidakpastian global,” bebernya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO