Buka konten ini
BATAM (BP) – Faktor ekonomi masih menjadi penyebab dominan di balik runtuhnya rumah tangga. Menariknya, kecanduan judi online kini juga muncul sebagai salah satu pemicu tingginya angka perceraian.
Pengadilan Agama Batam mencatat, hanya dalam enam bulan pertama 2025, terdapat 1.128 perkara perceraian. Mayoritas diajukan oleh pihak istri. Dari jumlah tersebut, cerai gugat mendominasi dengan 858 kasus.
Cerai gugat adalah gugatan perceraian yang diajukan oleh istri, sedangkan cerai talak diajukan oleh suami. Sepanjang semester pertama 2025, tercatat 267 perkara cerai talak. Selain itu, ada tiga permohonan poligami.
Humas Pengadilan Agama Batam, Mulyas, menyebut mayoritas perceraian dipicu oleh konflik rumah tangga berkepanjangan. “Jenis perkara yang paling banyak masuk tetap cerai gugat. Ini menunjukkan banyak istri merasa tidak lagi bisa melanjutkan rumah tangga karena berbagai alasan, terutama soal ekonomi,” ujarnya, Kamis (31/7).
Perselisihan dan pertengkaran berulang menjadi penyebab utama, dengan 698 perkara dalam enam bulan terakhir. Penyebab lain meliputi kurangnya nafkah (38 perkara), pasangan pergi tanpa kabar (47 perkara), kekerasan dalam rumah tangga (18 perkara), kecanduan judi (10 perkara), hukuman penjara (4 perkara), hingga perbedaan keyakinan (1 perkara).
“Banyak pasangan yang awalnya berselisih soal hal kecil, tapi karena tidak diselesaikan, konflik itu membesar hingga berujung perceraian,” jelas Mulyas.
Fenomena ini juga menunjukkan pergeseran sikap perempuan yang kini lebih berani mengambil langkah hukum saat merasa tidak mendapat keadilan emosional maupun finansial dalam pernikahan.
Menurut Mulyas, mediasi yang diwajibkan dalam setiap perkara perceraian jarang berhasil karena sebagian besar pasangan sudah mantap berpisah.
“Kami tetap berusaha mendamaikan melalui mediasi, tapi lebih banyak yang tidak berhasil karena sudah tidak ada kehendak memperbaiki hubungan,” ujarnya.
Pasangan muda menjadi kelompok paling rentan bercerai. Banyak yang menikah karena dorongan emosional atau tekanan lingkungan tanpa kesiapan mental dan finansial.
“Ketika masalah muncul, mereka bingung menghadapi dan akhirnya memilih cerai sebagai jalan keluar,” katanya.
Meningkatnya angka perceraian ini menjadi peringatan penting tentang perlunya pendidikan pranikah dan penguatan ketahanan keluarga.
“Kami berharap perceraian tidak menjadi pilihan utama. Jika rumah tangga masih bisa diselamatkan, upayakan dulu. Cerai sebaiknya pilihan terakhir,” tutup Mulyas. (***)
Reporter : M. Syaban
Editor : RYAN AGUNG