Buka konten ini

JAKARTA (BP) – ”Pembunuh ! Pembunuh rakyat! Musuh rakyat, pembunuh..!.” Teriakan itu terdengar berkali-kali saat Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menghadiri pemakaman Affan Kurniawan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.
Affan adalah driver ojek online (ojol) yang tewas akibat ditabrak kendaraan taktis (rantis) milik Brimob, saat aksi demi pada Jumat malam (28/8). Kedatangan Asep dan rombongan Polda Metro Jaya memantik emosi puluhan driver ojol. Bahkan, ada yang berusaha menyerang Kapolda. Untung, para ajudan Asep ber-tindak sigap. Mereka membuat barikade untuk melindungi Asep.
Massa gagal mendekati Asep. Di bawah perlindungan anak buahnya, Asep berhasil masuk ke mobil dinasnya dan meninggalkan TPU Karet Bivak. Massa yang marah melempari mobil dinas Asep dengan batu, kayu, dan botol air mineral. Sumpah serapah dan caci maki mengiringi kepergian Asep.
Tujuh Polisi Diamankan
Sebelum berkunjung ke lokasi pemakaman Affan Kurniawan, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri datang ke rumah keluarga almarhum.
”Saya atas nama pimpinan Polda Metro dan juga atas nama kesatuan, menyampaikan permohonan maaf yang mendalam dan duka cita yang sedalam-dalamnya terhadap keluarga almarhum,” kata Irjen Asep, Jumat (29/8).
Dia juga berjanji menindak tegas anggotanya yang melakukan kesalahan saat pengamanan unjuk rasa.
”Kita akan serahkan kepada Propam agar bertindak sesuai dengan aturan, ” ujarnya.
Hingga kemarin, tujuh anggota Brimob sudah diamankan. Mereka adalah Kompol CD, Aipda M, Bripka R, Briptu D, Bripda M, Baraka Y dan Baraka D. Tujuh orang itu berada di dalam Rantis Brimob saat tragedi maut itu terjadi.
”Kita akan profesional, kita akan proses tujuh pelaku itu secara transparan dan mengikuti proses hukum,” imbuhnya.
Dampak Ekonomi
Aksi demonstrasi yang memakan korban jiwa di Jakarta, Kamis (29/8) menyebabkan kepanikan di pasar modal. Indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot tajam. Pasar khawatir akan stabilitas ekonomi nasional.
Hingga penutupan perdagangan bursa, Jumat (29/8), IHSG terkoreksi 121,60 poin atau minus 1,53 persen di level 7.830,49. Sebanyak 630 saham turun dan 190 saham stagnan. Hanya 136 saham yang mengalami kenaikan.
Analis pasar modal Hans Kwee menjelaskan, aksi demo yang menimbulkan korban jiwa memicu ketakutan di kalangan pelaku pasar. Meski memang bukan karena faktor ekonomi langsung, melainkan karena potensi dampaknya terhadap aktivitas bisnis dan kestabilan makroekonomi.
”Demo ini terkesan anarki dan menimbulkan korban jiwa. Tentu ini menyebabkan pasar khawatir. Takutnya demo mengganggu stabilitas ekonomi,” ujar Hans.
Sebab, banyak perkantoran dan pusat kegiatan ekonomi di Jakarta yang terpaksa tutup lebih awal atau meliburkan karyawan. Ini secara langsung mengganggu aktivitas bisnis harian. Hal ini berpotensi menurunkan kinerja perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
”Itu mengganggu stabilitas ekonomi, khususnya di Jakarta yang pasti ada pengaruh ke kinerja ekonomi, pertumbuhan ekonomi, kinerja emiten. Jadi ini yang menyebabkan pasar panik dan tertekan turun ke bawah,” ungkap dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.
IHSG berpotensi bergerak menuju level teknikal titik breakout di kisaran 7.680 pekan ini. Jika tekanan jual terus berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG akan menembus level tersebut ke bawah. Ini dapat memicu aksi jual lanjutan.
Hans mengingatkan, kekhawatiran terbesar pasar adalah jika situasi ini berlanjut dan berubah menjadi kerusuhan skala besar seperti pada 1998. Ini bisa memicu arus keluar dana asing secara masif. ”Ini tentu akan sangat memukul ekonomi Indonesia, menyebabkan dana asing keluar, investor dalam negeri panik, dan melumpuhkan ekonomi yang berimbas pada rakyat kecil lebih besar,” terang Hans.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menilai, pelemahan pasar merupakan hal yang wajar dalam merespons dinamika yang berkembang. Dia berharap situasi segera kondusif untuk menjaga momentum pertumbuhan kuartal III 2025.
”Kita berharap kuartal III harus kita dorong lebih tinggi lagi, ini sudah akhir Agustus, kesempatannya tinggal di September,” katanya.
Untuk mengantisipasi gejolak pasar, pemerintah bersama otoritas terkait telah menyiapkan sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Terkait penurunan IHSG, Susiwijono menyatakan, pasar memiliki mekanisme tersendiri dalam merespons dinamika yang terjadi.
”Jadi kalau respons masalah IHSG, saya kira market sudah punya mekanisme sendiri untuk merespons itu. Tapi kita berharap mudah-mudahan kondusif,” imbuhnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG