Buka konten ini


Harga beras premium di Kabupaten Kepulauan Anambas melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Pantauan di lapangan menunjukkan, beras premium kini dijual antara Rp18 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram, padahal HET hanya Rp15.400 per kilogram.
Kepala Bagian Ekonomi Setda Anambas, Yohannes Marina Vianey Sawu, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, kenaikan harga beras sejalan dengan temuan Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
“Dari 514 kabupaten/kota, ada 483 daerah yang harga berasnya di atas HET. Untuk Kepri, ada tiga daerah, salah satunya Anambas. Data Kemendagri menunjukkan harga beras di Anambas naik sekitar 22 persen,” kata Yohannes, Jumat (29/8).
Menurut Yohannes, tingginya harga beras premium di Anambas dipengaruhi jalur distribusi, biaya transportasi, dan biaya bongkar muat. Beras dari Jawa harus dikirim terlebih dahulu ke Jakarta, baru kemudian dikapalkan ke Anambas.
“Distribusinya dua kali, sehingga harga ikut naik. Bahkan jika gabah dikirim langsung ke Anambas untuk diolah di sini, perhitungan kami tetap minus Rp4 juta per 20 ton. Jadi wajar harga beras di sini lebih tinggi dibanding HET,” jelasnya.
Untuk menekan harga, Pemkab Anambas akan menggelar rapat koordinasi dengan agen, pengecer, Satgas Pangan, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Bupati Anambas, Abdul Haris (Aneng), menegaskan pihaknya akan mengoptimalkan produksi beras lokal dari Pulau Jemaja.
“Lahan sawah di Jemaja sudah masuk panen. Meski produksinya belum banyak, ini bisa menjadi solusi sementara untuk mengurangi ketergantungan beras dari luar,” ujarnya.
Selain itu, Pemkab juga menjajaki kerja sama dengan daerah penghasil beras di Sumatra.
“Produksi mereka melimpah, kami coba masukkan beras itu ke Anambas supaya harga bisa ditekan,” tambah Aneng.
Kondisi serupa juga terjadi di Pulau Karimun. Stok kebutuhan pokok mulai tersedia di pasaran. Beras SPHP maupun medium sudah bisa diperoleh masyarakat, meski harga beras medium tercatat naik menjadi Rp14 ribu per kilogram. Beberapa komoditi sembako lain juga mengalami kenaikan, berkisar Rp2 ribu hingga Rp3 ribu per kilogram.
“Beras aman sih sekarang, tapi cabai rawit merah naik dari Rp55 ribu menjadi Rp58 ribu per kilogram. Pusinglah, harga sembako di Karimun tidak stabil saat ini,” keluh Lia, pedagang nasi, Jumat (29/8).
Ia berharap pemerintah daerah lebih serius memantau kebutuhan sembako agar harga tetap stabil, mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang sulit.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan ESDM Karimun, Basori, membenarkan adanya fluktuasi harga beberapa komoditi. Namun ada juga yang turun, antara lain, beras SPHP Bulog dari Rp13 ribu menjadi Rp12.400 per kilogram, cabai keriting dari Rp50 ribu menjadi Rp44.600 per kilogram, cabai rawit hijau dari Rp57 ribu menjadi Rp54 ribu per kilogram, dan bawang merah dari Rp51 ribu menjadi Rp47 ribu per kilogram.
Harga timun turun dari Rp13 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram, kacang panjang dari Rp17 ribu menjadi Rp16 ribu per kilogram. Sementara harga telur ayam, daging ayam, dan daging segar relatif stabil. Sedangkan sawi hijau dan kangkung mengalami kenaikan Rp2 ribu per kilogram. Basori memastikan pasokan cukup dan tersedia di pasaran.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas jual beli di pasar berjalan lambat. Pedagang menawarkan dagangan, namun pengunjung pasar relatif sepi.
“Sepi bang, sudah jam 10.00 WIB lapang di pasar. Jualan pas-pasan saja, untung sedikit yang penting habis,” ujar Tini, salah seorang pedagang sayuran. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO