Buka konten ini

Simphoni Fortesumo Marching Band SMKN 1 Batam kembali mengukir prestasi gemilang dengan memboyong dua piala emas dan sejumlah medali pada ajang bergengsi World Association Marching Show Band (WAMSB) 2025 yang digelar di Jakarta International Velodrome, 8–10 Agustus lalu. Berkompetisi dengan ribuan peserta dari berbagai negara, tim yang beranggotakan 50 siswa ini berhasil tampil memukau dan mengharumkan nama
Batam di kancah dunia.
SENIN (25/8) siang, aula SMKN 1 Batam dipenuhi tawa, sorak sorai, dan kilau piala emas. Di meja panjang, enam siswa – Najwa, Fahri, Fenica, Tyas, Jihan, dan Tiara – tampak sumringah menenteng trofi dan medali hasil kerja keras mereka. Sementara itu, Kepala SMKN 1 Batam, Deden Surya-na, dan pelatih marching band, Rizky Armando, tersenyum bangga menyaksikan anak didiknya yang baru saja menorehkan prestasi internasional.
Mereka adalah perwakilan dari Simphoni Fortesumo Marching Band, tim beranggotakan 50 siswa yang berhasil mengharumkan nama Batam di ajang World Association Marching Show Band (WAMSB) 2025 di Jakarta International Velodrome, 8–10 Agustus lalu. Ribuan peserta dari berbagai negara, mulai Polandia, Taiwan, Thailand, hingga Malaysia, memperebutkan gelar bergengsi.
Fenica, salah satu anggota tim, mengingat detik-detik tegang sebelum tampil. “Kami sempat deg-degan. Apala-gi melihat peserta dari negara lain yang sudah terkenal,” katanya sambil tersenyum.
“Tapi berkat kekompakan tim, kami bisa melewati semuanya dengan baik. Yang paling membanggakan adalah bisa berinteraksi dengan siswa dari negara lain. Itu pengalaman yang tak terlupakan.”
Persiapan panjang menjadi kunci keberhasilan mereka. Rizky Armando menceritakan, latihan intensif dimulai sejak Oktober 2024. “Hampir setiap hari, Senin sampai Minggu, kami berlatih selama sepuluh bulan. Dukungan sekolah dan orang tua menjadi energi tambahan bagi siswa,” ujarnya.
Hasilnya, manis. Simphoni Fortesumo berhasil menjuarai Colour Guard Contest Divisi Senior dan Open Class, meraih peringkat 2 Music Analysis and Visual Movement, serta masuk jajaran peringkat 3–5 di Drum Battle dan Street Parade. Dua piala emas dan puluhan medali kini menjadi bukti nyata disiplin, kerja keras, dan semangat pantang menyerah para siswa.
Deden Suryana, Kepala SMKN 1 Batam, menegaskan, prestasi ini bukan sekadar angka dan piala. “Ini bukti bahwa siswa kami bisa bersaing di level internasional. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya akademik, tetapi juga unggul dalam prestasi nonakademik,” katanya.
Di balik gemilangnya prestasi, ada tantangan yang tak kalah nyata: biaya dan fasilitas. Rizky menegaskan, dukungan pemerintah, sponsor, dan pihak swasta sangat dibutuhkan untuk akomodasi, pembelian alat, dan kesejahteraan pelatih.
“Prestasi mereka sudah membuktikan kemampuan. Jangan sampai pengembangan bakat ini terhambat hanya karena faktor biaya,” ujarnya.
Orang tua siswa juga ikut merasakan kebanggaan. Ibu Najwa, sambil menahan haru, menceritakan betapa bangganya melihat anaknya membawa nama Batam di tingkat dunia.
“Melihat dia pulang dengan piala, rasanya semua lelah, pengorbanan, dan doa terbayar lunas,” katanya.
Ke depan, Simphoni Fortesumo menargetkan Kejuaraan Piala Raja Hamengkubuwono di Yogyakarta sebagai langkah menuju kompetisi dunia berikutnya, termasuk kemungkinan kejuaraan di Meksiko. “Dari situ, peluang kami menembus ajang internasional semakin terbuka,” kata Rizky optimistis.
Prestasi nonakademik ini membuka lebih dari sekadar jalan menuju trofi. Banyak universitas ternama memberikan kesempatan khusus bagi siswa berprestasi di bidang seni dan olahraga. “Ini bisa jadi tiket masa depan mereka,” tambah Rizky.
Meski piala telah diraih, semangat para anggota Simphoni Fortesumo tidak padam. Setiap latihan kini terasa lebih berenergi, dengan mata berbinar menatap tantangan berikutnya. Mereka tidak hanya membawa nama Batam ke kancah nasional dan internasional, tetapi juga membuktikan satu hal: generasi muda kota ini punya potensi luar biasa jika diberi dukungan dan kesempatan.
Dan di aula SMKN 1 Batam, di antara sorak sorai dan kilauan piala, lahirlah cerita tentang kerja keras, semangat, dan mimpi yang kini menapak ke dunia. (***)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RYAN AGUNG