Buka konten ini

Jakarta (BP) – Populasi kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) di Indonesia melesat tajam. Per Agustus 2025, jumlahnya tembus 274.802 unit, naik 151 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengamat otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menyebut lonjakan ini tak lepas dari suntikan insentif fiskal pemerintah.
“Ini jelas efek dari kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP). PPN untuk BEV dipangkas jadi 1 persen bagi unit yang memenuhi syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Kebijakan ini berlaku sampai akhir 2025,” ujar Yannes, Jumat (29/8).
Dampaknya langsung terasa di pasar: harga jual mobil listrik turun, konsumen makin tertarik. Proposisi nilai kendaraan listrik meningkat tajam, dan adopsi pun melonjak.
Tak hanya soal harga, infrastruktur juga ikut menggeber laju adopsi BEV. Hingga Juli 2025, jumlah SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) sudah mencapai 4.186 unit di seluruh Indonesia. Angka ini jadi penanda bahwa ekosistem kendaraan listrik makin siap tempur.
“Keberadaan SPKLU ini perlahan menghapus kekhawatiran soal jarak tempuh alias range anxiety,” jelas Yannes.
Dengan kombinasi insentif fiskal dan pembangunan infrastruktur, Indonesia disebut sedang berada di jalur yang tepat menuju transisi energi ramah lingkungan. BEV bukan lagi barang masa depan tapi kendaraan masa kini. (*)
Reporter : JP Group
Editor : Iman Wachyudi