Buka konten ini

Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Tropis Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya
Sejak pandemi Covid-19 mereda, beberapa penyakit yang sebelumnya tiarap telah bangun kembali. Data statistik bahkan menunjukkan, angka kejadian pada banyak penyakit tersebut melampaui situasi sebelum pandemi. Campak alias morbili (gabag, tampeg, dan beberapa nama lain) adalah salah satu penyakit tua yang hingga kini tetap menakutkan.
Di seluruh dunia, pada era modern setelah keberadaan vaksin, campak sedang menunjukkan kejayaannya kembali saat ini. Setiap tahun sekitar 800 ribu anak terkena penyakit itu dan sebagian akan meninggal.
Sebenarnya, campak ditargetkan menjadi penyakit kelima yang bakal dimusnahkan dari bumi. Pada awal abad ini, banyak kemajuan yang menunjukkan harapan cerah. Bahkan, Benua Amerika pada 2000-an mencatatkan diri sebagai satu-satunya wilayah yang nihil kasus campak. Keberhasilan itu tidak bisa dipertahankan. Tahun ini ada ribuan kasus, termasuk di Amerika Utara. Dunia telah memundurkan target menghilangkan campak hingga 2030 sekalipun –menilik keadaan sekarang– cukup banyak orang yang pesimistis.
Penularan
Di Indonesia, campak tak pernah benar-benar hilang. Upaya utama dengan imunisasi tidak pernah mencapai keberhasilan maksimal. Di luar masa pandemi, ada puluhan wabah campak yang terjadi setiap tahun di negara kita. Saat ini kasus campak di beberapa daerah di Jawa Timur naik signifikan.
Campak ditandai dengan demam, batuk, pilek, sakit mata, dan bercak merah. Satu kasus campak biasanya mampu menular ke hampir 20 orang lain. Angka itu lebih tinggi daripada kebanyakan penyakit menular lain, termasuk Covid-19. Penularan utama melalui saluran napas.
Kematian terbesar campak datang dari dua jenis masalah. Komplikasi jangka pendek melalui radang paru dan mencret adalah yang cepat terlihat. Masalah yang lebih besar adalah hilangnya kekebalan umum pada orang yang menderita campak. Akibatnya, yang bersangkutan sangat mudah terkena penyakit lain.
Hilangnya kekebalan itu akan dialami sedikitnya selama 4 minggu. Namun, pada satu dua anak, hal itu bisa memanjang hingga lebih dari setahun. Bukti hal tersebut adalah jika kita mencegah kematian karena campak (melalui imunisasi dan beberapa upaya lain), efek turunnya angka kematian juga tampak pada saat yang sama pada penyakit lain.
Anak yang sembuh dari campak tidak bisa benar-benar lega. Sebab, dalam 8–10 tahun kemudian, penyakit itu dapat aktif kembali dan sekali itu organ yang diserang adalah sistem saraf sehingga hampir semua kasus bisa meninggal.
Upaya pemantauan dan pencatatan penyakit menular sering tidak bisa menjaring angka yang nyata, terutama apabila mendasarkan laporan hanya dari institusi pelayanan kesehatan resmi. Sangat banyak orang yang berobat di sarana swasta perorangan dan biasanya lolos dari pencatatan. Surveilans adalah salah satu kunci awal untuk mengenali persoalan wabah, kemudian menyusun langkah lanjutan.
Pengobatan
Hingga hari ini, kedokteran belum mampu membuat antivirus yang bisa mematikan virus campak. Upaya pengobatan lebih bersifat responsif terhadap berbagai keluhan pasien, pencukupan kebutuhan cairan-nutrisi-oksigen, pemberian vitamin A, serta beberapa hal lain yang juga tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan di Indonesia.
Upaya pencegahan utama adalah imunisasi. Vaksin campak adalah salah satu vaksin tua yang tetap ampuh di era modern ini. Vaksin berupa virus yang dilemahkan, diberikan sekurangnya dua kali. Indonesia bahkan memberikan vaksin campak sebanyak 3 kali, yaitu di usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD. Saat ini vaksin campak diberikan bersamaan dengan vaksin untuk saudaranya, yaitu virus rubela yang sebenarnya diharapkan akan menjadi penyakit keempat yang dimusnahkan di dunia.
Peningkatan kasus di seluruh dunia terjadi terutama karena menurunnya cakupan vaksinasi campak, bukan oleh sebab lain. Mutasi virus relatif jarang. Kekebalan terhadap vaksin belum pernah menjadi masalah serius. Penurunan cakupan vaksinasi terjadi terutama karena dua sebab, yaitu ketakutan akan efek samping vaksin serta banyaknya hoaks di media sosial.
Upaya penanggulangan wabah saat ini difokuskan pada penemuan kasus sedini mungkin, penanganan kasus yang tepat dan cepat, pencegahan komplikasi untuk menghambat kematian, serta penghentian persebaran. Imunisasi massal dalam skema outbreak response immunization (ORI ) menjadi salah satu faktor penting. Hampir sepuluh ribu botol vaksin sudah disiapkan untuk penanganan wabah di Jawa Timur kali ini. Sasaran utama untuk ORI pada Agustus–September 2025 adalah anak berusia di bawah 7 tahun.
Setelah ORI, pekerjaan rumah yang lebih besar adalah mencegah kantong-kantong daerah yang tidak terjangkau imunisasi. Kantong itu setiap tahun akan bertambah sehingga setelah beberapa waktu tentu akan meledak kembali. Imunisasi dasar rutin yang lengkap dan merata menjadi kunci utama pencegahan. (*)