Buka konten ini
BEIJING (BP) – Ilmuwan Tiongkok kembali mencetak kemajuan besar dalam teknologi komunikasi satelit. Pengcheng Laboratory yang berkolaborasi dengan Harbin Institute of Technology, Shenzhen, berhasil mengembangkan digital beamforming untuk satelit orbit rendah (low earth orbit/LEO). Teknologi itu membuka jalan bagi konektivitas 6G yang mengintegrasikan darat dengan angkasa.
Global Times, Kamis (28/8) melaporkan, tim peneliti telah melakukan puluhan kali uji coba orbital. Dari situ, keandalan teknologi multi-antena digital beamforming untuk komunikasi satelit LEO berkecepatan tinggi telah terbukti. Sistem baseband yang mereka kembangkan meningkatkan kualitas transmisi hingga 5,5 dB dan penerimaan hingga 2,6 dB.
Algoritma
Untuk mengatasi tantangan pergerakan cepat satelit LEO, tim riset merancang algoritma pelacakan inovatif.
Algoritma tersebut menggabungkan data lintasan satelit (efemeris) dengan pengukuran arah presisi tinggi. Hal itu memungkinkan akurasi pelacakan hingga kurang dari 0,1 derajat melalui perhitungan posisi orbit dan sudut secara real-time.
Liu Dingding, seorang analis teknologi, menjelaskan, keunggulan 6G terletak pada jangkauan konektivitasnya. Sistem 6G akan menyatukan infrastruktur darat, satelit, dan platform udara. Membentuk jaringan ruang-udara-darat yang seamless. Jauh melampaui kemampuan 5G, ujarnya.
Integrasi tersebut, kata dia, akan membuka peluang bagi inovasi seperti digital twins, world models, serta agen kecerdasan buatan.
Analis telekomunikasi senior Ma Jihua juga menyampaikan, Tiongkok berada di garis depan dalam riset 6G global. Dia memprediksi 6G akan membawa perubahan kualitatif. “Misalnya, operasi jarak jauh yang lebih presisi serta aplikasi berbasis kecerdasan buatan dan realitas virtual,” ungkapnya.
China Media Group menyebutkan, 6G tidak hanya menawarkan kecepatan lebih tinggi dan latensi (keterlambatan jaringan) lebih rendah, tetapi juga mengintegrasikan komunikasi, komputasi, kecerdasan buatan, big data, serta keamanan. Dengan target komersialisasi pada 2030, teknologi tersebut diperkirakan mampu mendukung miliaran perangkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO