Buka konten ini

Lebih dari tiga dekade lalu, seorang perempuan istimewa asal Tanjungpinang pernah merasakan gemerlap panggung hiburan dan menjadi bintang di dunia perfilman Indonesia. Kini, ia memilih jalan hidup yang berbeda: mengabdikan diri menjadi cahaya Qur’ani bagi anak-anak di Kota Lama.
SORE itu, ba’da Asar 3 Rabiul Awal 1447 Hijriah, bertepatan dengan Rabu, 27 Agustus 2025, suara lirih bacaan Al-Qur’an terdengar indah dari sudut dalam Masjid Agung Al-Hikmah di Kota Lama, Tanjungpinang. Di sana, duduk seorang perempuan istimewa dengan hijab yang menutupi wajah teduh dan bahunya. Ia tidak sendirian; perempuan itu ditemani oleh anak-anak yang juga melantunkan ayat suci Al-Qur’an.
Sesekali, perempuan itu merapikan sebuah catatan dengan jemarinya. Ia tampak sudah terbiasa menggunakan kaki saat beraktivitas dan mengajar anak-anak mengaji.
Perempuan istimewa yang tengah mengajar anak-anak mengaji itu adalah Nihayah, lahir di Tanjungpinang tanpa kedua tangan. Ia sempat menjadi bagian dari wajah-wajah yang menghibur masyarakat pada masanya.
Namanya mungkin tidak asing bagi para penggemar dan penonton layar lebar Indonesia pada era 1990-an. Mungkin juga tidak banyak yang tahu, Nihayah kini berusia 66 tahun dan sempat mencicipi gemerlap panggung dunia perfilman Indonesia tiga dekade silam.
Kisah Nihayah di dunia perfilman Indonesia dimulai sejak 1990-an. Berkat kemampuan dan bakatnya di bidang seni peran, Nihayah beradu akting dengan sejumlah artis film legendaris Indonesia lainnya.
Pada 1992, satu film berjudul Kuberikan Segalanya dirilis. Film ini menghiasi layar kaca dan bioskop-bioskop di Tanah Air. Dalam film bergenre drama berdurasi 112 menit ini, Nihayah menjadi bintang utama.
Tak tanggung-tanggung, dalam film pertamanya itu, Nihayah beradu akting dengan aktor sekelas Dedi Mizwar, Rano Karno, HIM Damsyik, Anwar Fuady, Gito Gilas, serta aktris sekelas Paramita Rusady dan Clara Sinta.
Dalam film garapan sutradara Galeb Husein, Nihayah berperan sebagai Anisah, seorang gadis difabel penderita kanker yang ikhlas berjuang untuk membantu perekonomian keluarganya.
Berkat aktingnya yang memukau, Nihayah berhasil menyabet Penghargaan Khusus Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI) 1992, kategori Pemeran Utama Perempuan.
Meskipun sempat merasakan ketenaran di dunia hiburan, hidup Nihayah juga menyimpan kisah panjang penuh ujian. Terlahir dengan keterbatasan fisik tanpa tangan, Nihayah justru tumbuh menjadi sosok pantang menyerah, membuktikan bahwa mimpi bisa digapai meskipun berbeda dari orang lain.
Kini, perempuan kelahiran Tanjungpinang 2 Juni 1959 ini memilih cahaya terang mihrab masjid sebagai jalan pengabdian hidup. Ia mengabdikan diri sebagai guru ngaji bagi anak-anak dan remaja di Tanjungpinang.
“Dahulu, kami sempat merasakan dunia seni dan hiburan. Tapi seiring berjalannya waktu, hati kami selalu ingin kembali ke jalan Allah, mendidik anak-anak dengan Al-Qur’an,” kata Nihayah saat diwawancarai Batam Pos, Rabu (27/8).
Sejak 1999, Nihayah mulai aktif mendidik anak-anak belajar mengaji. Mulai dari Iqro (belajar dasar membaca Al-Qur’an), Juz Amma, hingga Al-Qur’an dan ilmu agama Islam seperti tauhid, akhlak, fiqih, dan lain sebagainya.
Hampir 25 tahun terakhir, Nihayah menghabiskan banyak waktunya di Masjid Agung Al-Hikmah Kota Lama Tanjungpinang. Ia kini menjadi Kepala Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Hikmah Tanjungpinang.
Nihayah mengajar dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Setiap huruf hijaiyah yang ia lafalkan, setiap ayat yang ia bimbing, menjadi ladang amal dan ketenangan batinnya. Anak-anak yang belajar padanya tidak hanya mendapat ilmu membaca Al-Qur’an, tetapi juga teladan tentang keteguhan hati dan keikhlasan menjadi guru mengaji.
“Alhamdulillah, saat ini sekitar 60 anak belajar mengaji bersama kami,” ujar pemeran utama sinetron Indonesia Bunda Tersayang itu.
Semangat Mendidik dan Tetap Bersyukur
Nihayah menceritakan, ia lahir tanpa kedua tangan, namun tetap bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya. Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangatnya untuk berkarya dan mendidik.
“Alhamdulillah, kami mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepada kami,” ucapnya penuh syukur.
Ia tumbuh seperti anak-anak lainnya. Keterbatasan fisik tidak membuatnya malu; ia tetap bersekolah dari SD hingga SMA di Tanjungpinang. Nihayah juga sempat menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Riau (UNRI). Namun impian menjadi sarjana harus sirna setelah ayahnya, Abubakar, wafat.
Sejak itu, ia pulang ke Tanjungpinang untuk menemani ibunya, Rafe’ah. Berbagai peruntungan dijalani Nihayah untuk menyambung hidup hingga akhirnya bertemu abang iparnya, sutradara Galeb Husein.
Sutradara kelahiran Tanjungpinang itu kemudian melihat bakat dan potensi Nihayah dalam seni peran. Nihayah lalu ditawari memerankan sebuah film dan setuju.
“Sekitar tahun 1985, kami pernah jual kain dan pakaian yang dibeli dari Singapura.
Kemudian dijual di Tanjungpinang hingga akhirnya main di satu judul film yang disu-tradarai abang kami, tahun 1992,” ungkap alumni SMAN 1 Tanjungpinang ini.
Bagi Nihayah, kemuliaan hidup bukan lagi soal dirinya pernah mewarnai dunia perfilman Indonesia, melainkan doa tulus dari anak-anak yang ia bimbing agar bisa membaca ayat suci Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, kami bisa mengajar anak-anak dengan ilmu yang bermanfaat agar mereka bisa mengaji. Semoga menjadi amal jariyah bagi kami,” ucapnya.
Dari panggung dunia film di masa lalu hingga melantunkan ayat suci hari ini, perjalanan hidup Nihayah menjadi panutan dan inspirasi. Dari seorang aktris layar lebar, kini ia menjadi sosok pengabdi di rumah Allah, mendidik generasi muda dengan cahaya Al-Qur’an dan cahaya Islam.
“Inilah panggung sejati kami sekarang, mengabdikan diri menjadi guru ngaji,” tutup Nihayah sambil tersenyum manis. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG