Buka konten ini

Di desa terpencil tepian laut, Genting Pulur namanya, berada di Jemata Timur, Batik Mangrove terlahir. Tak sekadar lembaran kain biasa. Batik Mangrove jadi wujud sekaligus simbol kreativitas warga Anambas yang mampu memanfaatkan potensi alamnya hingga menembus batas nusantara.

DI sebuah desa kecil yang tenang di tepian laut, Desa Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur, lahirlah karya yang mengundang decak kagum Batik Mangrove. Kain ini bukan sekadar lembaran batik biasa, melainkan simbol kreativitas masyarakat Anambas yang pandai mengolah potensi alam di sekelilingnya.
Yang membuat batik ini istimewa terletak pada tintanya. Bukan dari bahan kimia pabrikan, melainkan dari buah mangrove yang biasanya dibiarkan membusuk di sekitar pantai. Dari tangan terampil seorang warga desa, Bambang Asmara, limbah buah bakau itu menjelma menjadi pewarna alami yang ramah lingkungan sekaligus penuh nilai seni.
Bambang masih ingat betul awal perjalanannya. Tahun 2023, ia mencoba secara otodidak meramu buah mangrove menjadi tinta pewarna batik.
“Alhamdulillah, berhasil. Dari situ saya mulai percaya diri. Lalu Harbour Energi datang, memberi pembinaan, bahkan mengirim saya ke Pulau Jawa untuk belajar lebih dalam,” kenangnya.
Kini, Batik Mangrove sudah punya lima motif khas, jongkong layar, pucuk rebung, purnama, ikan manyok, dan jongkong layar. Setiap motif bukan hanya indah, tetapi juga bercerita tentang kehidupan masyarakat pesisir Anambas yang sederhana sekaligus kuat menghadapi tantangan laut.
Perjalanan Batik Mangrove tak dijalani Bambang seorang diri. Ia menggandeng generasi muda hingga ibu-ibu rumah tangga di Genting Pulur. Baginya, batik bukan sekadar karya seni, tetapi juga jalan membuka peluang ekonomi baru. “Kain batik kita harganya Rp400 ribu per meter. Lumayan untuk membantu pekerja, semuanya orang lokal,” ujar Bambang dengan mata berbinar.
Meski produksi dilakukan berdasarkan pesanan, Batik Mangrove sudah melanglang buana. Dari Jakarta, Bandung, hingga Papua, bahkan pernah dipakai sebagai seragam resmi perusahaan Harbour Energi.
Dari desa kecil di perbatasan, Batik Mangrove kini menjelma sebagai identitas baru Anambas.
Ia bukan hanya kain, melainkan bukti nyata bahwa karya besar bisa lahir dari tempat terpencil, menembus batas daerah, dan membawa nama Anambas ke panggung yang lebih luas. (***)