Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Hujan deras yang mengguyur beberapa kawasan di Kota Batam pada Kamis (28/8) siang, membuat sejumlah ruas jalan tergenang banjir. Air meluap cepat dari drainase, menutup aspal jalan hingga setinggi lutut orang dewasa di beberapa titik.
Di Batam Center, genangan cukup parah terlihat di kawasan Simpang Kepri Mall. Arus air yang deras membuat pengendara motor terpaksa berhenti, sebagian nekat menerobos genangan karena terburu-buru. Akhirnya, banyak kendaraan, terutama sepeda motor, mogok usai nekat menerobos banjir, sehingga pemiliknya harus menuntun perlahan di tengah derasnya arus.
“Air naik cepat sekali, motor saya langsung mati begitu kena tengah jalan. Banyak juga pengendara lain yang sama, jadi akhirnya dorong ramai-ramai,” kata Arif, salah seorang warga yang melintas di Simpang Kepri Mall, kemarin.
Tidak hanya di Batam Center, banjir juga merendam jalanan di kawasan Sei Panas, Batam Kota. Air yang mengalir deras di jalan raya bahkan membuat seorang wanita pengendara motor jatuh dan sempat terseret. Beruntung, warga yang melihat kejadian tersebut segera menolong sehingga meminimalkan hal yang tak diinginkan.
“Tolong, ini harus jadi fokus yang harus segera diatasi, karena banjir ini sangat mengganggu sekali, terutama bagi pengendara motor seperti saya yang harus menerjang banjir dan mengakibatkan kendaraan mogok,” katanya.
Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Hang Nadim Batam, memprakirakan kondisi cuaca di wilayah Kepulauan Riau (Kepri) pada Jumat (29/8), cenderung berawan dengan potensi hujan ringan di beberapa daerah.
Menurut BMKG, kecepatan angin yang cukup tinggi menjadi salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan awan hujan di wilayah ini. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap mewaspadai kemungkinan turunnya hujan ringan, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Sebelumnya, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengungkap faktor utama yang memicu meluasnya banjir di Bandar Dunia Madani. Menurutnya, masalah ini tidak lepas dari pemanfaatan lahan secara masif dalam beberapa tahun terakhir, yang membuat area tangkapan air atau catchment area semakin berkurang.
“Beberapa wilayah yang kita sebut catchment area itu sudah mulai telanjang. Hujan dengan curah tertentu, misalnya di sekitar bandara, langsung melimpah ke Kepri Mall,” ujar Amsakar, Rabu (27/8).
Ia menambahkan, intensitas hujan sedang saja kini cukup untuk menimbulkan genangan di pusat kota. Hal ini disebabkan aliran air dari kawasan atas tidak lagi tertahan oleh vegetasi maupun area resapan yang semestinya berfungsi sebagai penyangga.
Selain faktor perubahan tata guna lahan, Amsakar juga mengakui pelebaran jalan yang dilakukan pemerintah beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya diikuti pembangunan drainase yang proporsional.
“Pelebaran yang kita lakukan itu belum diikuti drainase yang proporsional. Ini karena keterbatasan anggaran. Harus kita hitung kemampuannya,” ujarnya.
Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah tengah menyusun rencana induk drainase kota. Kajian tersebut melibatkan tim teknis yang meninjau seluruh kecamatan. Hasil pemetaan menunjukkan terdapat 105 titik rawan banjir di Batam, jumlah yang meningkat dibanding tahun sebelumnya.
“Jadi bukan berkurang, malah bertambah. Ini membuat kita harus bergerak lebih sistematis agar penanganan banjir bisa lebih terarah,” kata Amsakar.
Langkah awal yang sudah ditempuh tahun ini adalah pembangunan sistem pompa air di kawasan Jodoh. Pompa tersebut difungsikan untuk mempercepat aliran air saat hujan deras, sehingga genangan tidak bertahan lama. Ke depan, Amsakar memastikan program serupa akan diperluas.
“Untuk tahun 2026, akan dilanjutkan di beberapa titik lain. Kita berharap langkah ini bisa mengurangi dampak banjir, meskipun persoalan utamanya tetap soal tata ruang dan drainase yang perlu diperbaiki secara menyeluruh,” pungkasnya.(*)
Reporter : Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK