Buka konten ini

GAZA (BP) – Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kian memperlihatkan dampak tragis bagi warga sipil. Investigasi bersama The Guardian, +972 Magazine, dan Local Call mengungkap temuan mengejutkan dari data internal militer Israel sendiri. Berdasarkan catatan hingga Mei 2025, 83 persen dari sekitar 53.000 warga Palestina yang tewas dalam perang Gaza adalah warga sipil, bukan kombatan bersenjata.
Dari total korban jiwa tersebut, hanya sekitar 8.900 orang yang teridentifikasi sebagai anggota Hamas maupun kelompok bersenjata Palestinian Islamic Jihad (PIJ). Sisanya, lebih dari 44.000 korban, terdiri dari perempuan, anak-anak, serta warga sipil lainnya yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
Proporsi ini menempatkan konflik Gaza dalam jajaran perang dengan tingkat kematian sipil tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Perbandingan yang digunakan peneliti menunjukkan bahwa rasio korban sipil di Gaza bahkan lebih tinggi dibandingkan pengepungan Mariupol oleh Rusia pada 2022, dan hampir mendekati tingkat genosida Rwanda 1994.
Sepertiga Pasien Anak-Anak
Kondisi ini terlihat jelas di fasilitas medis. Data terbaru dari Medecins Sans Frontieres (MSF) menunjukkan bahwa sepertiga pasien rawat jalan di rumah sakit Gaza adalah anak-anak. Sebagian besar datang dengan luka serius akibat senjata peledak. Di dua rumah sakit MSF, hampir 60 persen luka pada tungkai disebabkan ledakan yang menghancurkan jaringan otot, tulang, dan kulit.
“Sebagian besar pasien kami adalah korban senjata peledak di daerah padat penduduk, termasuk kamp pengungsian sementara. Anak-anak tidak terkecuali,” demikian pernyataan MSF. Organisasi itu menegaskan penggunaan bom di kawasan permukiman sipil telah menciptakan krisis medis jangka panjang, karena banyak pasien berisiko mengalami cacat permanen.
Kelaparan Mematikan
Selain ancaman serangan, kelaparan kini menjadi pembunuh senyap di Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, 10 orang, termasuk dua anak-anak, meninggal akibat kelaparan. Dengan penambahan ini, total kematian karena kekurangan gizi dan kelaparan telah mencapai 313 jiwa, di antaranya 119 anak-anak.
Krisis pangan ini terjadi akibat blokade dan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan. Banyak warga hidup hanya dengan satu kali makan sederhana per hari, bahkan sebagian tidak mendapatkan makanan sama sekali.
Paus Desak Gencatan Senjata
Meningkatnya jumlah korban sipil dan kematian akibat kelaparan memicu gelombang kecaman internasional. Paus Fransiskus XIV menyerukan agar Israel segera mengakhiri tindakan yang disebutnya sebagai hukuman kolektif terhadap masyarakat Palestina. Vatikan mendesak diberlakukannya gencatan senjata segera serta pembukaan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan. (***)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG