Buka konten ini
TEL AVIV (BP) – Aksi protes untuk menghentikan serangan ke Gaza oleh Israel sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Bukan hanya dari dunia internasional, demo juga terjadi di dalam negeri Israel. Namun, negara Yahudi itu tetap menutup telinga.
Dilansir dari Al Jazeera, Rabu (27/8), tentara Israel (IDF) menggunakan kekuatan besar untuk menduduki Gaza. Dengan tank maupun pesawat tempur, mereka menghancurkan seluruh blok.
Hingga berita ini ditulis, setidaknya ada 64 warga Palestina yang meninggal karena serangan tersebut. IDF juga menggerebek seluruh Tepi Barat. Setidaknya lima orang ditangkap di dekat Betlehem.
Bertepatan Rapat Kabinet Keamanan
Sehari sebelumnya, dilansir AFP, ribuan demonstran kembali turun ke jalan-jalan Tel Aviv. Mereka menuntut pemerintah Israel segera mengakhiri perang di Gaza dan menyepakati kesepakatan pembebasan sandera. Aksi unjuk rasa yang diselenggarakan oleh Forum Keluarga Sandera dan Hilang itu digelar bertepatan dengan rapat kabinet keamanan Israel.
Massa berkumpul sejak pagi dan memblokade sejumlah jalan utama di pusat kota. Mereka membawa bendera Israel dan memajang foto-foto para sandera yang masih ditahan oleh Hamas sejak konflik memanas pada tahun lalu.
Selama 690 hari, pemerintah telah mengobarkan perang tanpa tujuan yang jelas,” kata Einav Zangauker, ibu dari sandera bernama Matan Zangauker, dalam pernyataan bersama keluarga sandera lainnya.
Aksi juga digelar di sekitar kantor cabang Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) di Tel Aviv serta di depan rumah-rumah sejumlah menteri kabinet. Saat malam tiba, ribuan orang memadati Hostage Square yang menjadi titik utama aksi solidaritas bagi para sandera.
”Saya di sini untuk menuntut kesepakatan pembebasan sandera dan mengakhiri perang,” ucap Yoav Vider, salah satu demonstran.
Sementara itu, rapat kabinet yang digelar tertutup belum menghasilkan keputusan konkret. Dalam pidatonya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak memberikan keterangan detail.
”Saya baru saja keluar dari rapat kabinet. Saya tidak bisa bicara terlalu banyak. Tetapi, satu hal yang pasti. (Karena) ini dimulai di Gaza, maka akan berakhir di Gaza,” tuturnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG