Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Tekanan ekonomi, perubahan strategi bisnis, hingga tuntutan efisiensi membuat sejumlah e-commerce melakukan perampingan. Sektor tersebut kini menghadapi tantangan serius dalam menjaga daya saing dan keberlanjutan di tengah kondisi pasar yang kian ketat. Pengamat menyebut, industri e-commerce sedang memasuki fase baru.
Salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia, dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 420 karyawan dalam dua bulan terakhir. Rinciannya, 180 orang pada Juli lalu dan tambahan 240 orang pada Agustus ini.
Pemangkasan tersebut mencakup sejumlah divisi, mulai dari teknologi informasi (IT), layanan pelanggan, hingga tim pemenuhan pesanan dan gudang.
Menanggapi kabar itu, TikTok selaku induk usaha Tokopedia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari evaluasi rutin bisnis.
“Kami secara rutin mengevaluasi kebutuhan bisnis dan melakukan berbagai penyesuaian untuk memperkuat organisasi serta memberikan layanan yang lebih baik kepada para pengguna,” demikian pernyataan tertulis TikTok ,kemarin (27/8).
Restrukturisasi Internal
Dalam pernyataannya, TikTok menyebut adanya restrukturisasi internal di dalam entitas gabungan TikTok–GoTo yang mengelola unit bisnis e-commerce di Indonesia. Integrasi resmi keduanya memang masih berada dalam tahap transformasi dan penyesuaian organisasi.
Data Bank Indonesia (BI) mencatat, transaksi e-commerce sepanjang 2024 masih tumbuh 7,3 persen. Namun, pada Juli 2025 laju pertumbuhan anjlok menjadi hanya 2,32 persen (year on year), dengan nilai transaksi mencapai Rp44,4 triliun.
Perlambatan ini menjadi sinyal bahwa ekspansi agresif tidak lagi cukup, sehingga platform digital didorong untuk mengejar profitabilitas dan keberlanjutan.
Perubahan Fokus
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhila Maulida, menilai perubahan strategi tersebut sebagai fase pendewasaan industri.
“Pergeseran GMV (gross merchandise value) menuju efisiensi dan keberlanjutan menunjukkan perubahan fokus dari pertumbuhan kuantitas menjadi pertumbuhan kualitas. Orientasi jangka pendek ke ekspansi kini beralih ke stabilitas jangka panjang,” paparnya.
Jaga Keseimbangan
Perjalanan menuju efisiensi juga diwarnai tantangan. E-commerce harus mampu menjaga keseimbangan antara profit, kepuasan konsumen, aturan pemerintah, dan tuntutan investor.
“Tantangan utama e-commerce terletak pada bagaimana menjaga efisiensi operasional tanpa mengorbankan consumer surplus. Platform harus bisa mencari titik temu antara profitabilitas dan kebutuhan konsumen,” jelas Fadhila. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO