Buka konten ini

Kedai klasik di sudut Kota Lama itu telah beroperasi sejak 1966. Tempat tua yang melayani servis dan perbaikan arloji ini menjadi saksi perjalanan detik dan waktu di Tanjungpinang.
KEDAI klasik nan legendaris itu hanya berukuran 1 meter x 2 meter. Sederhana, tanpa pelang merek, tanpa kemewahan. Namun, masyarakat mengenalnya sebagai Kedai Arloji Pak Achyar.
Menemukan kedai tua itu tidak sulit. Siapa pun yang ingin memperbaiki arloji atau jam tangan bisa langsung menuju kawasan Kota Lama di Jalan Merdeka, Tanjungpinang.
Achyar adalah nama pemilik sekaligus teknisi pertama kedai klasik tersebut. Maestro servis arloji itu kini telah tiada. Keahliannya diwariskan kepada anaknya, Gustiar.
Bagi Gustiar, usaha keluarga turun-temurun ini bukan sekadar sarana mencari nafkah. Ada cerita dan kenangan yang melekat kuat.
”Usaha turun-temurun ini adalah kenangan bagi kami. Almarhum ayah merintis usaha ini sejak 1966,” ujar Gustiar kepada Batam Pos, Selasa (26/8).
Jejak Sang Perantau
Gustiar menuturkan, almarhum Achyar berasal dari Bukittinggi, Sumatra Barat. Lelaki kelahiran 1943 itu merantau ke Tanjungpinang pada 1965.
Setahun kemudian, ia mulai merintis usaha servis arloji di Jalan Merdeka. Dari sana, usaha warisan itu mampu membiayai kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anaknya.
Sejak 2003, Gustiar mengambil alih usaha tersebut. Lelaki kelahiran Tanjungpinang 54 tahun silam ini mengaku mulai belajar memperbaiki jam tangan sejak duduk di bangku SMA.
Alumnus SMA Negeri 2 Tanjungpinang angkatan 1991 itu bercerita, ia jarang sekali meminta langsung ilmu dari sang ayah. Ia lebih banyak belajar secara otodidak.
”Kami coba-coba saja waktu itu, belajar sendiri. Kalau tidak sanggup, baru minta ayah kasih tahu cara memperbaiki,” kenang Gustiar.
Setelah lulus SMA, Gustiar melanjutkan pendidikan ke IAIN Imam Bonjol, Padang. Ia meraih gelar Sarjana Agama, lalu sempat mencoba peruntungan menjadi guru dan pegawai negeri. Namun, jalan itu tidak terbuka.
”Dulu tidak terpikir menjadi tukang servis jam tangan, apalagi melanjutkan usaha ayah,” ucapnya.
Hingga akhirnya, ia kembali ke jalan yang telah dirintis ayahnya. Setelah lebih dari 20 tahun, Gustiar merasakan manfaat dan rezeki dari keahliannya.
”Alhamdulillah, rezeki sudah diatur Allah. Selagi bisa membantu memperbaiki jam tangan pelanggan, kami berusaha semaksimal mungkin,” ujar ayah dua anak itu.
Menjaga Detik dan Kenangan
Menurut Gustiar, teknisi arloji punya peran penting. Mereka bukan sekadar memperbaiki, tetapi juga menjaga kualitas dan umur jam tangan.
Setiap arloji pasti mengalami kerusakan, mulai dari baterai habis hingga mesin rusak. Karena itu, servis berkala sangat dianjurkan.
”Perawatan rutin penting untuk menjaga performa dan umur pakai arloji. Konsultasi juga perlu agar pemilik tahu cara merawatnya,” kata Gustiar.
Di kedai itu, pelanggan bisa memperbaiki mesin jam, mengganti baterai, tali jam, hingga kaca arloji. Gustiar juga melayani tukar tambah arloji klasik.
Baginya, yang terpenting adalah pelayanan terbaik dan kepuasan pelanggan. Itulah yang membuat Kedai Arloji Pak Achyar tetap bertahan di tengah gempuran era digital.
Sejak 2016, kedai ini juga menjual jam tangan bekas bermerek. Meski seken, kualitasnya tetap dijaga. Rolex, Seiko, Omega, Tag Heuer, hingga Breitling bisa ditemukan di sini.
Pelanggan datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Singapura.
”Alhamdulillah, selalu ada pesanan dari peminat arloji klasik,” tutup Gustiar. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG