Buka konten ini

SAGULUNG (BP) – Kemacetan di ruas Jalan Mukakuning–Tembesi masih menjadi pemandangan rutin, terutama pada sore hari. Padatnya kendaraan pekerja yang pulang kerja ditambah arus kendaraan berat membuat lalu lintas di jalur ini kerap tersendat.
Kemacetan biasanya mengular dari kawasan Dam hingga tanjakan Bukit Daeng. Kendaraan dipaksa berjalan pelan mengikuti antrean panjang yang sulit terurai.
“Kalau sudah pukul 17.00 WIB sore, bisa habis waktu lebih dari setengah jam hanya untuk melewati jalur ini,” keluh Andi, salah seorang pengendara.
Kondisi makin parah bila ada kendaraan berat mogok atau tidak kuat menanjak di Bukit Daeng. Dengan hanya dua lajur, kendaraan lain sulit mendahului. “Sudah seharusnya dilebarkan jadi lima lajur. Biar kendaraan berat bisa ambil jalur kiri, jadi tidak menghambat jalur utama,” kata Karina, pengguna jalan.
Selain sempit, kondisi jalan bergelombang juga menambah risiko kecelakaan. Tak jarang pengendara motor terjatuh akibat permukaan jalan tidak rata, terutama saat hujan. “Jalannya bukan cuma macet, tapi juga rawan kecelakaan,” imbuh Karina.
Warga berharap pemerintah segera merealisasikan pelebaran jalan hingga Tembesi, menyambung jalur lima lajur yang sudah tersedia di simpang Barelang. “Kalau sudah lima lajur, arus kendaraan pasti lebih lancar. Apalagi jalur ini akses utama pekerja dan logistik,” ucap Andi.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Suhar, saat dikonfirmasi belum memberikan tanggapan. Namun, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, ia menegaskan pelebaran jalan menjadi prioritas Pemko Batam, meski pelaksanaannya menyesuaikan ketersediaan anggaran.
“Pelebaran jalan dilakukan bertahap, seperti yang sudah rampung di ruas Jalan R Suprapto hingga simpang Puteri Hijau,” kata Suhar. Ia menambahkan, pelebaran ke arah Tembesi masuk dalam rencana jangka menengah Pemko Batam.
Dengan pertumbuhan jumlah kendaraan yang terus meningkat, warga berharap rencana pelebaran ini segera terealisasi. Ruas Mukakuning–Tembesi dinilai vital karena menghubungkan kawasan industri, permukiman, dan akses menuju wilayah hinterland. (*)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RATNA IRTATIK