Buka konten ini

“Ini varietas Anies IPB dan ini varietas Si Gemoy,” kata pakar pemuliaan tanaman dari IPB University, Prof. Dr. Muhamad Syukur, sambil menunjuk kedua tanaman yang tumbuh berdampingan di dalam “green house” atau rumah kaca di kawasan Dramaga, Kabupaten Bogor.
Baik Anies maupun Si Gemoy tak ada kaitannya dengan politik. Kedua nama tersebut merujuk pada dua varietas cabai unggulan yang lahir dari tangan dingin Prof Syukur. Di lahan seluas 3.000 meter persegi yang menerapkan pertanian terintegrasi itu juga terdapat berbagai varietas cabai mulai dari cabai keriting, rawit, besar, hingga cabai hias yang merupakan hasil pemuliaan akademisi itu.
Uniknya, nama Anies IPB bukanlah merujuk pada sosok politisi Anies Baswedan. Anies IPB merupakan varietas cabai yang terinspirasi dari nama dosen pembimbingnya yakni mendiang Prof Sriani Sujiprihati, seorang pakar genetik dan pemuliaan tanaman IPB. Prof Siani merupakan penemu varietas pepaya Calina yang lebih dikenal dengan pepaya California.
“Anies adalah nama kecil pembimbing saya, almarhumah Prof Sriani Sujiprihati,” kata Syukur.
Varietas tersebut dirilis pada 2015. Sedangkan Si Gemoy merupakan varietas cabai manis yang saat ini, SK pendaftarannya baru terbit. Si Gemoy memiliki kandungan vitamin C yang tinggi dan bisa dikonsumsi secara langsung.
Tak hanya varietas Anies IPB dan Si Gemoy, juga ada varietas Palurah IPB yang lahir dari konsistensi Syukur. Palurah IPB memiliki tingkat kepedasan 500 kali dari cabai biasa. Cabai ini juga memiliki bentuk unik seperti jambu air. Peruntukkannya tak hanya untuk bumbu, namun bisa dimanfaatkan di bidang kesehatan. Cabai Palurah ini berpotensi digunakan untuk produk seperti koyo cabai yang bahan bakunya masih diimpor.
“Varietas cabai super pedas ini sudah terdaftar dan sudah dapat SK dari kementerian namun perlu izin edarnya dan sedang diuji coba di beberapa lokasi, sebelum nantinya dilepas ke petani,” kata peraih Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2012 itu.
Selain cabai rawit dan keriting, juga terdapat cabai hias Triwarsana atau yang dikenal dengan cabai pelangi. Dalam satu batang tanaman terdapat cabai dengan dengan warna yang berbeda.
Sejak 2003, Muhamad Syukur konsisten melakukan penelitian terkait cabai. Tepatnya saat memulai studi doktoral di Sekolah Pascasarjana IPB. Ketertarikannya pada cabai tak lepas dari latar belakangnya, yang merupakan anak seorang petani dari Desa Srikembang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Kedua orang tuanya menanam padi, namun disela-sela pematang sawat terdapat tanaman cabai.
Dengan kata lain, sejak dulu cabai menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Meski memiliki ekonomi, tantangan yang dihadapi petani cukup banyak mulai dari fluktuasi harga, penyediaan benih berkualitas, tekanan hama dan penyakit, lingkungan, hingga penjualannya.
Dari kondisi itu, ia memahami apa yang dapat dilakukan sebagai pemulia tanaman seperti dirinya dari sisi hulu. Sejak itu, ia konsisten melakukan penelitian khususnya dalam menghasilkan varietas unggul.
Peraih peringkat satu dosen berprestasi tingkat nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014 itu menyebut, telah mendaftarkan setidaknya 30 varietas cabai unggul, sebagian telah dilepas dan sebagian telah mendapatkan sertifikat Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Mulai dari cabai besar hibrida IPB CH1 pada 2007 hingga cabai super pedas Margi IPB yang mendapatkan sertifikat dari PPVTPP Kementan pada 2024.
Tak hanya menghasilkan varietas cabai saja, penemuan Syukur juga pada varietas sayur dan bunga diantaranya, bunga matahari, marigold sudamala, kacang tunggak, okra, hingga salak. Varietas unggulan tersebut sudah dilepas sejak 2010 dan dilisensi oleh Benih Dramaga. Berkat inovasi yang dilakukannya, IPB pun mengganjarnya dengan sejumlah penghargaan. Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria berharap inovasi-inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat bermanfaat dan memberi dampak kepada masyarakat.
Potensi ekonomi
Cabai memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Setiap tahun kebutuhan akan cabai di Indonesia mencapai 1,7 juta ton dengan rata-rata konsumsi 3 kilogram per orangnya.
Untuk satu hektare lahan misalnya, membutuhkan biaya sekitar Rp150 juta hingga Rp200 juta dengan jumlah produksi yang dihasilkan sekitar 10-20 ton dengan lama masa tanam 6 bulan. Dengan kata lain biaya untuk menghasilkan satu kg cabai sekitar Rp7.500 hingga Rp20.000.
Potensi keuntungan yang didapat cukup tinggi sekitar Rp50 juta hingga Rp200 juta untuk satu musim tanam, tergantung pada harga cabai di pasaran.
Cabai juga memiliki keunggulan dapat ditanam dimana saja dan kapan saja. Beda halnya dengan wortel atau kentang yang hidup di dataran tinggi.
”Bahkan kalau kondisi lingkungannya bagus dan ditunjang air, pencahayaan yang cukup, maka ada gelombang kedua. Jadi tanaman tidak perlu dibongkar dan ditanam ulang, tapi itu dengan catatan lingkungannya harus benar-benar optimal,” terang Guru Besar Fakultas Pertanian IPB itu.
Walau bisa hidup dengan kondisi alam apa saja, Syukur menyarankan agar petani dapat memilih varietas cabai sesuai dengan kondisi lingkungan budidayanya. Kebutuhan akan cabai juga sepanjang tahun, karena tradisi masyarakat Indonesia mengonsumsi cabai dalam keadaan segar. (Indriani)
Reporter : ANTARA
Editor : AGNES DhAMAYANTI