Buka konten ini

Di Pulau Bintan, dalam keindahan alam yang mempesona, tersimpan hamparan pasir putih, suara desiran ombak, dan birunya laut. Menjejakkan kaki di pantai yang beratapkan langit akan meninggalkan jejak kenangan dan pengalaman vakansi yang tak terlupakan.
PULAU Bintan tidak pernah habis memanjakan mata siapa pun yang datang berkunjung, baik untuk vakansi maupun sekadar berlibur di akhir pekan. Di antara banyak destinasi wisata bahari, ada satu pantai yang mungkin tak setenar Pantai legendaris Trikora.
Namun, pantai ini menyimpan panorama alam yang menawan. Dengan hamparan pasir putih yang lembut, Pantai Atok menghadirkan keindahan alam yang sulit dilupakan.
Saat kaki menapak di butiran pasirnya, rasa tenang langsung menyelimuti. Angin laut berembus sejuk, berpadu dengan air jernih yang menyapa lembut wajah.
Dari kejauhan, birunya laut bertemu dengan langit cerah, menciptakan gradasi warna yang begitu memikat. Ombak yang tenang seakan berbisik, menambah kesyahduan suasana.
Pantai berpasir putih ini berjarak sekitar 50 kilometer dari Tanjungpinang. Berlokasi di pesisir Desa Malang Rapat, Batu 50, Pulau Bintan, pantai ini dikenal dengan nama Pantai Atok.
Keistimewaan Pantai Atok bukan hanya pada garis pantainya, melainkan juga suasana alami yang masih terjaga. Belum banyak sentuhan modern yang mengubah wajah pantai ini, sehingga siapa pun yang datang dapat merasakan sensasi kembali ke alam.
Menjelang sore, saat matahari mulai meredup, langit di atas Pantai Atok berubah menjadi jingga keemasan. Momen senja ini membuat siapa saja enggan memalingkan pandangan.
Suasana romantis dan syahdu menjadikannya tempat pelarian sempurna dari rutinitas sehari-hari. Sebuah pengalaman yang sulit dilupakan bagi siapa saja yang berkunjung.
Bagi pengunjung, Pantai Atok juga menyimpan cerita dan kenangan. Banyak keluarga datang pada akhir pekan untuk menikmati kebersamaan, bermain pasir, berenang, atau sekadar duduk di bawah pohon menatap cakrawala.
“Pantai Atok itu asyik dan sederhana, tapi keindahannya sulit dilupakan. Sekali datang, pasti ingin kembali lagi,” ujar Koko Ricardo, warga Tanjungpinang yang membawa keluarganya ke Pantai Atok, Minggu (24/8).
Menurutnya, Pantai Atok bukan hanya sekadar tempat berlibur, tetapi juga tempat santai bersama keluarga. “Tidak mewah, tapi suasana alamnya masih asli. Pasir putihnya lembut, suara ombaknya menenangkan. Cocok untuk melepas penat sambil kembali ke alam,” sebut Koko.
Pengelola Pantai Atok, Ari Darmariansyah Azwar Muhammad (43), mengatakan pantai seluas satu hektare ini merupakan tanah warisan keluarganya. Pantai yang awalnya tanpa nama itu sudah ada sejak dahulu kala.
Namun, baru pada September 2018, pantai ini dibuka untuk umum dan dikelola secara mandiri menjadi destinasi vakansi alami. “Kami namakan pantai ini Pantai Atok. ‘Atok’ dalam bahasa Melayu berarti kakek. Nama ini dipilih agar keluarga besar kami selalu mengenang atok kami,” jelas Ari.
Ari menambahkan, Pantai Atok memiliki pasir putih alami, ombak tenang, air laut jernih, serta panorama yang memikat. “Kalau senja, sunset-nya cantik luar biasa. Pagi hari bisa lihat sunrise, siang hari langit biru membentang. Keindahannya alami, bikin ingin kembali lagi,” ungkapnya.
Menariknya, untuk masuk ke Pantai Atok tidak dipungut biaya alias gratis. Meski begitu, fasilitasnya terbilang lengkap. Tersedia pondok santai, musala, dan toilet.
“Masuk gratis. Kalau sewa satu pondok untuk lima orang, cukup Rp50 ribu saja,” ujarnya.
Selain itu, pengelola juga menyediakan pondok khusus dengan fasilitas lengkap bagi pengunjung yang ingin bermalam. “Kalau menginap, biayanya Rp150 ribu untuk empat orang. Sudah ada kasur, bantal, kelambu, colokan listrik, dan pemanggang,” terang Ari.
Bagi yang ingin merasakan sensasi petualangan di tepi pantai pada malam hari, pengunjung dipersilakan mendirikan tenda di atas pasir. “Silakan bermalam menikmati alam. Tapi sebelum datang, sebaiknya cek kondisi cuaca terlebih dahulu,” imbau Ari. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG