Buka konten ini

TAIPEI (BP) – Referendum yang diusulkan oleh partai oposisi Taiwan, yakni Kuomintang (KMT) dan Taiwan People’s Party (TPP), mengenai kelanjutan operasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Maanshan, gagal disahkan, Sabtu (23/8). Meskipun mayoritas pemilih mendukung, jumlah suara setuju tidak mencukupi kuorum minimum yang diatur undang-undang.
Dilansir dari Reuters, menurut data dari Komisi Pemilihan Umum, sekitar 4.341.432 orang atau 74 persen suara sah memilih “ya”, sementara itu 1.511.693 orang memilih “tidak”.
Namun, untuk sah secara hukum, referendum tersebut membutuhkan dukungan minimal 5 juta suara “ya”.
PLTN Maanshan merupakan reaktor terakhir di Taiwan yang ditutup pada Mei 2025 sebagai bagian dari kebijakan fase keluar nuklir oleh pemerintah dan Partai Demokratis Progresif (DPP).
Presiden Lai Ching-te yang juga anggota DPP menghormati aspirasi publik terhadap diversifikasi opsi energi, namun dia menegaskan bahwa keamanan nuklir tetap menjadi prioritas.
Ia menyatakan bahwa pemerintah tidak akan menutup kemungkinan mempertimbangkan teknologi nuklir generasi baru di masa depan jika aspek keamanan, pengelolaan limbah, dan penerimaan masyarakat terpenuhi.
Lebih lanjut, pemilihan hari itu juga mencakup upaya pemakzulan terhadap beberapa anggota legislatif dari partai oposisi, yang juga gagal. Tujuh anggota parlemen dari KMT berhasil mempertahankan posisi mereka, menambah kekalahan politik bagi DPP yang sebelumnya sudah kehilangan mayoritas legislatif. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO