Buka konten ini

Tangga klasik dari abad ke-19 yang berlokasi di kawasan Kota Lama Tanjungpinang, resmi ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Tanjungpinang. Penetapan ini bertujuan melestarikan warisan sejarah dan arsitektur yang telah berusia lebih dari 100 tahun.
TANGGA klasik nan legendaris itu bernama Tangga Batu. Dikenal juga sebagai Tangga Apollo, Tangga 30, atau Tangga Bertingkat. Tangga ini berfungsi sebagai akses publik sekaligus elemen artistik kota sejak abad ke-19.
Tangga Batu di Tanjungpinang telah ada sejak masa kolonial Belanda. Meskipun banyak pembangunan modern menggantikan jalan lama, Tangga Batu tetap berdiri, menyimpan sisa sejarah yang tak terlupakan.
Tangga Batu berperan penting sebagai fasilitas umum dan akses jalan pintas di Tanjungpinang. Letak geografis Tanjungpinang yang berbukit-bukit pada masa lalu mendorong pembangunan tangga batu, agar kota terlihat indah, rapi, dan artistik.
Batu yang digunakan untuk membangun tangga tersebut berasal dari pabrik batu alam di Senggarang pada masa lampau. Batu yang sama juga dipakai untuk pembangunan Masjid Sultan Riau Penyengat.
Karena itu, Tangga Batu bukan hanya sekadar susunan batu menanjak. Tangga klasik nan legendaris ini adalah jejak masa lalu yang patut dikenang, dirawat, dan dibanggakan.
Kini, Tangga Batu menjadi bagian dari upaya penguatan identitas budaya Tanjungpinang sekaligus peningkatan daya tarik wisata. Tangga ini bukan hanya struktur fisik, melainkan simbol perjalanan dan kenangan bagi masyarakat.
Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas Tangga Batu mulai meredup. Pembangunan jalan raya dan akses kendaraan perlahan menggeser fungsinya sebagai jalan penghubung.
Untuk mengenalkan kembali Tangga Batu kepada generasi muda, Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mulai melakukan upaya pelestarian. Salah satunya dengan menjadikan Tangga Batu sebagai objek cagar budaya Tanjungpinang.
Melalui pelestarian ini, masyarakat diharapkan dapat terus merajut kisah masa lalu ke dalam kehidupan modern. Sejarah pun tetap hidup bagi generasi mendatang, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam Tangga Batu dapat terus dihargai.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tanjungpinang, Zulhidayat, mengungkapkan ada lima objek yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Tanjungpinang pada awal 2025. Salah satunya adalah Tangga Batu.
Dengan status cagar budaya, kelima objek itu mendapat perlindungan hukum sekaligus diharapkan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan. ”Objek cagar budaya akan mendapatkan perawatan dan upaya pelestarian yang lebih baik, sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga bagi generasi mendatang,” jelas Zulhidayat.
Ia menambahkan, keberadaan cagar budaya baru juga dapat memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar. “Dengan penetapan ini, Tanjungpinang semakin kaya akan sejarah dan budaya. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat Tanjungpinang,” terangnya.
Cerita Nostalgia Masyarakat di Tangga Batu
Tangga Batu selalu dikenang sebagai tempat penuh cerita nostalgia. Masyarakat lebih masyhur menyebutnya Tangga Apollo.
Tangga yang menghubungkan Jalan Diponegoro, Jalan Masjid, Jalan Gereja, Jalan Teuku Umar, Jalan Sunaryo, dan Jalan Kemboja ini terletak di kawasan pusat Kota Lama Tanjungpinang. Tangga tersebut menghubungkan dataran rendah dengan dataran lebih tinggi di perbukitan.
Pada masa lalu, tangga ini dipercaya menjadi akses utama menuju rumah-rumah panggung, sekolah, pasar, masjid, gereja, hingga pelabuhan. Terbuat dari batu alam dan campuran semen, Tangga Batu dibangun kokoh dan tahan lama, seakan menjadi simbol ketangguhan serta keakraban masyarakat dengan lingkungannya.
Bagi masyarakat Tanjungpinang, khususnya generasi 1980–1990-an, Tangga Batu bukan sekadar jalur penghubung. Tempat ini menjadi titik pertemuan, arena bermain masa kecil, bahkan lokasi bersantai dan berbagi cerita.
“Waktu kecil sekitar tahun 1989, kami biasanya berlomba menaiki anak tangga sambil tertawa riang atau sekadar duduk santai bersama kawan-kawan,” kenang Nasrul (47), warga Jalan Kemboja, Tanjungpinang.
Dahulu, pedagang kaki lima ramai berjualan di sekitar Tangga Batu. Salah satu yang paling membekas adalah camilan es campur Apollo, yang kemudian menginspirasi julukan Tangga Apollo.
“Kami sekeluarga kalau pulang dari madrasah di Jalan Sunaryo, sore hari pasti singgah main di situ. Tidak lupa jajan es Apollo,” ujarnya.
Selain sebagai tempat berkumpul, Tangga Batu juga berfungsi sebagai jalan penghubung antara permukiman di Jalan Kemboja, Kampung Bukit, Jalan Sunaryo, dan Jalan Diponegoro dengan kawasan Kota Lama, termasuk Jalan Teuku Umar, Pasar Jalan Merdeka, Masjid Agung Al-Hikmah, dan Pelabuhan Sri Bintan Pura. “Dulu, kalau mau ke tepi laut, belanja ke pasar, atau salat di masjid, kami pasti lewat tangga itu sebagai jalan pintas,” kenang Nasrul lagi.
Menurutnya, siapa pun yang pernah melewati Tangga Batu pasti punya kenangan tersendiri. Setiap anak tangga seolah menyimpan jejak masa ke masa.
“Tangga Apollo ini harus dijaga karena banyak kenangan di sini. Semoga pemerintah memperhatikan tempat ini. Sekarang kondisinya tampak tidak terawat,” harapnya. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG