Buka konten ini

Pulau Pahat yang berada di Kecamatan Siantan Utara, Kabupaten Anambas tak hanya sekadar pulau kecil dengan hamparan pasir putih yang memanjakan mata. Ia menyimpan kisah tentang kehidupan, tentang perjuangan seekor penyu yang bermula dari sebutir telur rapuh yang tertanam di balik pasir hangat.
SORE itu, cahaya matahari jatuh lembut di atas pasir putih Pulau Pahat. Ombak kecil berkejaran, sesekali menghapus jejak-jejak mungil yang ditinggalkan tukik saat merangkak menuju laut.
Wisatawan yang berjongkok di tepi pantai tampak berhati-hati. Satu per satu, tangan-tangan manusia melepas anak penyu itu kembali ke rumah sejatinya, samudra. Ada rasa haru, ada kagum, bahkan doa yang ikut terselip di balik setiap tatapan.
“Rasanya luar biasa, seperti ikut memberi kesempatan hidup pada makhluk mungil ini,” ucap Dora, wisatawan asal Tanjungpinang. Tangannya sempat bergetar saat meletakkan seekor tukik ke pasir, sebelum akhirnya menatapnya hingga lenyap ditelan ombak.
Gundukan Pasir, Gundukan Harapan
Sebelum momen pelepasan, wisatawan diajak menyusuri area penangkaran. Di sana, deretan kayu penanda tertancap di atas gundukan pasir. Setiap lubang adalah rumah sementara bagi telur-telur penyu yang sengaja dipindahkan agar aman dari ombak, predator, maupun tangan-tangan serakah.
Setiap lubang ini adalah harapan,’’ kata Zikry, pemandu lokal. Baginya, tiap gundukan bukan sekadar sarang, melainkan doa agar spesies laut yang kian terancam tetap bertahan.
Malam di Bawah Cahaya Senter
Puncak pengalaman terjadi saat malam tiba. Dalam keheningan pantai, hanya ditemani cahaya senter, seekor induk penyu hijau perlahan menggali sarang. Pasir beterbangan, menciptakan rumah baru bagi puluhan kehidupan kecil.
Wisatawan menyaksikan dengan penuh takzim. Ada yang menahan napas, ada pula yang tak kuasa menahan air mata. Dora, yang sejak sore begitu antusias, memberanikan diri menyentuh tempurung induk penyu itu. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca.
“Momen ini membuat saya sadar betapa rapuhnya kehidupan laut. Kita harus menjaga mereka,” katanya lirih.
Belajar dari Pulau Pahat
Pulau Pahat bukan hanya tentang pasir putih atau sunset yang membakar langit jingga.
Lebih dari itu, ia adalah ruang belajar. Tentang kepedulian, keterlibatan, dan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Ketika matahari benar-benar tenggelam, seorang wisatawan tampak berjalan sendiri di tepi pantai. Siluet tubuhnya berpadu dengan langit jingga keemasan. Ombak kecil menyapu kakinya, meninggalkan rasa dingin yang lembut, seakan alam sendiri tengah berbisik, menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil.
Dari seekor tukik yang dilepas ke laut, Pulau Pahat mengajarkan satu hal sederhana, bahwa harapan selalu bisa lahir, bahkan dari butiran pasir yang rapuh. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO