Buka konten ini

BATAM (BP) – Semangat mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar internasional kembali diwujudkan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Melalui Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025, BI Kepri resmi membuka rangkaian acara di One Batam Mall, Kamis (21/8).
Mengusung tema “Akselerasi Ekspor Menuju Kemandirian Ekonomi yang Berkelanjutan”, GMP 2025 menjadi bukti konsistensi BI Kepri menghadirkan program nyata untuk memperkuat daya saing UMKM. Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, menyebut posisi geografis Kepri yang strategis sebagai pintu gerbang ke Singapura dan Malaysia membuka peluang besar bagi produk UMKM untuk ekspor.
“Kami ingin UMKM Kepri semakin percaya diri. BI hadir untuk mendukung para pelaku usaha agar produk mereka bernilai tambah tinggi dan tembus pasar internasional,” ujar Rony.
Tahun ini, BI Kepri menargetkan pembiayaan melalui business matching meningkat hingga Rp13 miliar. Sejumlah agenda juga disiapkan, mulai dari pameran produk unggulan, peragaan busana berbasis wastra Melayu, hingga pertemuan antara UMKM dengan perbankan dan calon pembeli.
“Harapannya, makin banyak UMKM mendapat akses modal untuk memperluas usaha, bahkan sampai ekspor,” tambah Rony.
Selain itu, BI Kepri juga mendorong digitalisasi UMKM. Melalui sistem pembayaran QRIS, transaksi menjadi lebih mudah, cepat, dan aman. Bahkan, QRIS Cross Border memungkinkan wisatawan Singapura dan Malaysia bertransaksi langsung di Batam.
“Inovasi ini membuka peluang omzet lebih besar bagi pelaku UMKM,” jelasnya.
Dukungan penuh juga datang dari BI Pusat. Asisten Gubernur BI, Doddy Zulverdi, menegaskan tiga kunci utama agar UMKM Kepri bisa mendunia, yakni konsistensi, inovasi, dan sinergi.
“Kalau kita konsisten, terus berinovasi, dan saling bersi-nergi, saya yakin UMKM Kepri bisa mendunia,” kata Doddy di hadapan jajaran Forkopimda Kepri serta perwakilan kabupaten/kota.
Menurut Doddy, pembinaan UMKM tidak bisa instan. Mereka membutuhkan pendampingan berkelanjutan hingga benar-benar siap ekspor.
“UMKM tidak bisa sekali tendang langsung selesai. Mereka butuh pendampingan, pembiayaan, pemasaran, hingga digitalisasi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan UMKM hanya bisa dicapai melalui kerja sama multipihak. “BI tidak bisa sendiri. Harus ada kolaborasi dengan pemerintah daerah, perbankan, instansi terkait, komunitas kreatif, hingga Dekranasda,” tegasnya.
Ketua Panitia GMP sekaligus Asisten Direktur BI Kepri, Adik Afrinaldi, menyebut ajang ini menghadirkan lebih dari 100 UMKM binaan serta melibatkan sejumlah bank nasional. “Produk UMKM yang tampil di pameran ini sudah melalui proses inkubasi, kurasi, dan pelatihan. Jadi kualitasnya benar-benar teruji,” jelasnya.
Selain pameran, GMP 2025 juga diramaikan dengan talk show tematik seputar fesyen, halal UMKM, digitalisasi, hingga strategi ekspor. Beragam hiburan turut disiapkan, mulai dari lomba rakyat, kompang, fun run 5K, hingga penampilan musisi Pongki Barata.
Menurut Adik, GMP bukan sekadar agenda tahunan, melainkan strategi memperkuat daya saing UMKM perbatasan. “Permintaan ekspor ke Singapura dan Malaysia sudah ada, tetapi pasokan kita masih terbatas. Karena itu, melalui GMP ini kita dorong peningkatan produktivitas agar UMKM bisa memenuhi permintaan tersebut,” katanya.
Dengan sinergi antara BI Pusat, BI Kepri, pemerintah daerah, perbankan, hingga komunitas kreatif, Gebyar Melayu Pesisir 2025 diyakini mampu membuka jalan bagi UMKM Kepri untuk naik kelas, menjaga warisan budaya Melayu, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi di pasar global.
“Batam dan Kepri adalah daerah perbatasan dengan peluang besar. Kita ingin UMKM benar-benar bisa go global,” ujar Adik. (*)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : RYAN AGUNG