Buka konten ini

SPANYOL (BP) – Jaksa lingkungan Spanyol memerintahkan pejabat untuk memverifikasi apakah pemerintah kota yang terdampak kebakaran hutan telah memenuhi kewajiban hukum mereka dalam menyusun rencana pencegahan. Perintah ini tercantum dalam dokumen yang dilihat AFP, Kamis (21/8).
Langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara pemerintah Perdana Menteri dari Partai Sosialis, Pedro Sanchez, dengan pemerintah daerah yang dipimpin pihak konservatif. Perselisihan terkait pengelolaan kebakaran ini terjadi saat lahan terbakar dalam jumlah rekor.
Dalam sistem desentralisasi Spanyol, pemerintah daerah memimpin tanggap darurat bencana. Meski demikian, pemerintah pusat dapat turun tangan ketika keadaan darurat memburuk.
Wilayah barat laut Galicia dan Castile dan Leon, serta Extremadura di bagian barat, menjadi daerah yang paling parah terdampak kebakaran yang berlangsung sejak awal Agustus di tengah gelombang panas ekstrem.
Pemerintah daerah diwajibkan menyusun strategi pencegahan. Namun, menurut laporan surat kabar El Pais, pemerintah nasional belum mengeluarkan peraturan yang menetapkan kriteria baku bagi rencana-rencana tersebut.
Dalam suratnya kepada pejabat kejaksaan lokal di seluruh negeri, seperti dilansir dari channelnewsasia.com, jaksa lingkungan Spanyol, Antonio Vercher, menilai bahwa jelas skala kebakaran hutan yang terjadi disebabkan oleh absennya atau buruknya pelaksanaan langkah-langkah pencegahan. Ia mendorong jaksa lokal untuk mempertimbangkan menuntut pertanggungjawaban pidana dalam kasus-kasus paling serius.
Kontroversi serupa pernah terjadi pada Oktober 2024, ketika banjir mematikan di wilayah timur Valencia memicu bentrokan antara pemerintah Sanchez dan pemimpin daerah konservatif terkait tanggung jawab kesiapsiagaan bencana.
Virginia Barcones, Direktur Jenderal Layanan Darurat, menyatakan Kamis bahwa kondisi cuaca yang membaik seharusnya memungkinkan petugas pemadam kebakaran membuat kemajuan signifikan dalam menahan api.
Sepanjang tahun ini, lebih dari 403.000 hektare telah terbakar di Spanyol, menurut European Forest Fire Information System.
Jumlah ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 306.000 hektare pada 2022, yang menjadi musim kebakaran terburuk sejak pencatatan dimulai pada 2006.
Para ilmuwan menyatakan bahwa perubahan iklim menyebabkan gelombang panas yang lebih panjang, lebih intens, dan lebih sering terjadi di seluruh dunia. Kelembapan udara, vegetasi, dan tanah yang rendah membuat kebakaran hutan lebih mudah terbakar dan lebih sulit dikendalikan setelah menyebar. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG