Buka konten ini

Tradisi Mandi Safar kembali digelar masyarakat Melayu di dua wilayah Kepulauan Riau, Rabu (20/8). Warga Desa Benan, Kecamatan Katang Bidare, Kabupaten Lingga, dan Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, kompak melestarikan ritual tolak bala ini dengan penuh khidmat.
DI Desa Benan, prosesi dilaksanakan di Pantai Benan dan diikuti oleh ratusan warga. Tradisi diawali dengan doa bersama yang dipimpin Sekcam Katang Bidare, Aswin, dilanjutkan dengan mandi bersama di laut sebagai simbol penyucian diri dan permohonan perlindungan dari marabahaya.
Aspek spiritual dan sosial menyatu dalam mandi Safar. Ini warisan yang harus dijaga,’’kata Aswin.
Sementara di Desa Penaga, kegiatan dimulai dari Kampung Belak dan berpuncak di Kampung Tanjungpisau. Warga mengambil air dari sumur untuk digunakan dalam prosesi mandi. Acara dilanjutkan dengan kenduri dan doa selamat.
Ketua LAM Teluk Bintan, Hamdan, menegaskan pentingnya pelestarian tradisi ini. Ini budaya turun-temurun sejak zaman penghulu. Harus kita jaga,’’ ujarnya.
Tahun ini, Penaga mengemasnya dalam bentuk Festival Mandi Safar, sekaligus merayakan pengukuhan LAM Desa Penaga. Festival ini turut dimeriahkan atraksi budaya seperti gasing dan tari lemang.
Meski berbeda dalam teknis pelaksanaan, kedua desa sepakat bahwa Mandi Safar bukan sekadar ritual, tapi juga simbol persatuan, gotong royong, dan identitas budaya Melayu yang terus hidup hingga kini.
Dua desa yang berada di wilayah berbeda ini menunjukkan bahwa meski pelaksanaannya berbeda, esensi Mandi Safar tetap sama: menolak musibah, memohon perlindungan Tuhan, dan mempererat hubungan antarwarga.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, pelestarian tradisi seperti Mandi Safar menjadi tantangan tersendiri. Namun di dua desa ini, tradisi turun-temurun tersebut tetap hidup, bahkan semakin diperkuat sebagai identitas budaya yang melekat pada masyarakat Melayu.
Menurut Aswin, keberlangsungan Mandi Safar menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dan spiritual masih sangat dihargai masyarakat.
‘‘Ini bagian dari karakter bangsa yang harus terus dijaga agar tidak hilang termakan zaman,’’ ujarnya.
Tak hanya sebagai ritual, Mandi Safar menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami akar budaya dan pentingnya menjaga nilai gotong royong dan persaudaraan.
Tokoh adat dan pemerintah daerah berharap tradisi ini tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan agar semakin dikenal luas. Festival Mandi Safar di Desa Penaga adalah langkah nyata menghadirkan tradisi dalam bentuk yang lebih menarik dan modern tanpa meninggalkan nilai-nilai asli.
‘‘Dari sini kita harapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat secara karakter dan cinta budaya,’’ tegas Hamdan, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Teluk Bintan.
Mandi Safar mengajarkan kita bahwa warisan leluhur bukan sekadar masa lalu, tapi modal penting untuk masa depan.
Di dalam kebersamaan mandi dan doa, terkandung doa-doa tulus warga untuk negeri dan generasi yang akan datang.
Mandi Safar bukan hanya ritual tolak bala atau penyucian diri. Ia adalah wujud nyata kebudayaan Melayu yang kaya akan nilai spiritual dan sosial.
Di Desa Benan dan Penaga, tradisi ini hidup dan terus dibangun sebagai fondasi pengikat masyarakat yang harmonis dan berdaya.
Lewat ritual ini, warga Kepulauan Riau tidak hanya menjaga adat, tetapi juga meneguhkan jati diri dan membangun harapan bersama untuk masa depan yang lebih baik dan penuh berkah. (***)
Reporter : Slamet Nofasusanto – VATAWARI,
Editor : iman wachyudi