Buka konten ini

KUANTAN SINGINGI (BP) – Kabupaten Kuansing yang berjarak 165 km dari Pekanbaru kini dipadati ribuan pengunjung sejak Festival Pacu Jalur 2025 dibuka Selasa (20/8). Perlombaan perahu tradisional itu digelar hingga Minggu (24/8) di Sungai Batang Kuantan, Teluk Kuantan.
Popularitas pacu jalur makin mendunia setelah aksi para “tukang tari” di haluan perahu menjadi viral. Gaya selebrasi khas mereka bahkan ditiru sejumlah atlet internasional, mulai dari pemain PSG Bradley Barcola, pembalap F1 Fernando Alonso, hingga pasangan ganda putra bulutangkis Indonesia Fajar Alfian/M. Shohibul Fikri.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut pacu jalur sebagai wujud nyata tradisi yang konsisten dilestarikan. Sejak 2022, festival ini masuk kalender Kharisma Event Nusantara (KEN), bahkan pada 2024 berhasil menembus 10 besar KEN.
Dalam pembukaan kemarin, hadir pula Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, serta Gubernur Riau dan Bupati Kuansing.
Salah satu ikon festival, Rayyan Arkan Dikha—bocah tukang tari yang gerakannya ditiru banyak atlet—kembali tampil di helatan tahun ini. Menariknya, Rayyan juga bakal berkolaborasi dengan rapper asal Amerika Serikat Melly Mike di panggung penutupan pada 24 Agustus. Selain itu, sejumlah pengisi acara lain akan tampil di tiga titik hiburan: Taman Jalur, Hutan Pulau Bungin, dan Lapangan Limuno.
Gubernur Wahid menargetkan jumlah penonton tahun ini mencapai 1,5 juta orang. “Kalau setiap orang membelanjakan Rp50 ribu saja, potensi perputaran uang bisa tembus Rp70 miliar di Kuansing,” ujarnya.
Warisan Sejak Abad ke-20
Sejarah jalur berawal dari perahu kayu gelondongan yang sejak abad ke-17 digunakan sebagai sarana angkut hasil bumi. Tradisi berpacu di sungai sendiri baru dimulai awal abad ke-20. Festival Pacu Jalur 2025 bahkan tercatat sebagai penyelenggaraan ke-125.
Setiap desa biasanya mengirimkan satu hingga dua perahu jalur. Sebelum ikut lomba, perahu itu harus melalui serangkaian prosesi adat, termasuk pemilihan kayu, pembuatan badan perahu, hingga prosesi “turun ke sungai”.
“Pacu jalur bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi sarat makna budaya,” ujar Bupati Suhardiman.
Aksi tukang tari kini jadi daya tarik utama, dengan gerakan khas seperti putaran tangan hingga gaya todongan pistol. Kepercayaan diri yang mereka tampilkan melahirkan istilah aura farming, yang menggambarkan ekspresi percaya diri dan keren secara natural.
Minta Dukungan Pusat
Gubernur Wahid menyebut pacu jalur sebagai wajah pariwisata Riau. Untuk pengembangan lebih lanjut, ia berharap pemerintah pusat membantu membangun fasilitas agar penyelenggaraan festival makin representatif.
Bupati Suhardiman bahkan menyerahkan masterplan waterfront city Tepian Narosa kepada Menteri Pariwisata, sekaligus dokumen usulan pacu jalur sebagai warisan budaya takbenda dunia ke UNESCO.
“Kami juga menginginkan pacu jalur masuk kawasan strategis pariwisata nasional, sehingga bisa memperoleh alokasi anggaran dari APBN,” jelasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO