Buka konten ini

BATAM (BP) – Riuh sorakan, tiupan peluit, dan deru mesin speedboat berpadu meramaikan perairan Belakang Padang, Minggu (17/8). Ribuan warga tumpah ruah di Dataran Elang-elang Laut untuk menyaksikan lomba sampan layar, ketinting, hingga speedboat race dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejak pagi, arus manusia terus berdatangan. Kapal pancung hilir mudik tanpa henti mengangkut penumpang dari Batam menuju Belakang Padang. Antrean panjang terlihat di pelabuhan, namun tak menyurutkan semangat warga. Semua ingin menjadi bagian dari pesta bahari tahunan ini.
“Alhamdulillah, antusias sangat tinggi. Bukan hanya warga Batam, bahkan dari Singapura dan Malaysia juga banyak yang datang. Dibanding tahun lalu, pengunjung meningkat signifikan,” ujar Camat Belakang Padang, Abdul Hanafi.
Kemeriahan pacu laut tak hanya memikat warga lokal, tetapi juga menjadi atraksi wisata yang menarik wisatawan luar daerah. Ribuan penonton memadati tepian pantai, sementara pedagang musiman menjajakan makanan dan minuman khas pulau.
“Event ini adalah bukti tradisi bisa menjadi daya tarik wisata. Semoga ke depan lebih tertata dan dipromosikan agar Belakang Padang makin dikenal sebagai destinasi bahari,” tambah Hanafi.
Menurutnya, selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga mempererat persatuan. “Di sinilah terlihat bagaimana masyarakat, pemerintah, dan tokoh lokal bersatu. Semua bergotong royong menyukseskan acara. Semangat kebersamaan inilah yang harus terus kita jaga,” jelasnya.
Lomba pacu laut di Belakang Padang bukan sekadar hiburan. Sejak 1964, tradisi ini telah melekat sebagai budaya bahari masyarakat setempat. Bagi warga pulau, Agustus—atau yang mereka sebut Ogos—selalu identik dengan pacu laut.
Tokoh masyarakat Belakang Padang, H. Hasyim, yang juga menjadi sponsor utama kegiatan, menegaskan tradisi ini adalah warisan turun-temurun yang tak boleh hilang.
“Orang tua kita sudah mengenalnya sejak 1964. Setiap tahun momen ini selalu dinantikan. Pacu laut bukan hanya tradisi, tetapi kebanggaan kita, simbol kebersamaan, dan jati diri masyarakat bahari,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap kali lomba digelar, dampaknya langsung terasa pada ekonomi masyarakat.
“Mulai dari jasa bot pancung, tukang becak, sampai UMKM ikut merasakan berkah. Perputaran ekonomi di Belakang Padang meningkat tajam. Inilah multiplier effect nyata dari tradisi budaya,” kata Hasyim.
Panitia mencatat, tahun ini jumlah peserta dan penonton meningkat dibanding tahun lalu. Perlombaan yang dimulai sejak 11 Agustus dengan babak penyisihan itu mencapai puncaknya pada final Minggu (17/8).
Sorak-sorai penonton membahana setiap kali perahu melintas garis finis. Warga bertepuk tangan, bersiul, bahkan ada yang membawa beduk kecil untuk menambah semarak suasana.
“Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Kami bangga bisa mendukung acara ini. Terima kasih kepada Wali Kota Batam dan masyarakat yang kompak menjaga tradisi bahari ini,” pungkas Hasyim.
Tradisi pacu laut Belakang Padang kini bukan hanya pesta rakyat, tetapi juga telah menjelma menjadi magnet wisata yang membawa manfaat ekonomi sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat pesisir. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK