Buka konten ini

Anambas (BP) – Di bawah teduhnya pohon rindang di Komplek Koramil 07 Palmatak, Minggu (17/8), sebuah momen sederhana berubah menjadi kisah yang menggugah hati. Dafa Ramadhan Putra Hadi, siswa kelas 12 SMA dan putra seorang Babinsa, berdiri terpaku saat sosok Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, datang menyapanya secara langsung.
Tak pernah terbayang olehnya, bahwa pertemuan itu akan menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Saat tubuhnya dirangkul hangat oleh sang Jenderal, Dafa merasa seolah mimpinya mendapat izin untuk tumbuh.
”Sudah persiapan belum?” tanya Jenderal Kunto. Dafa menjawab dengan suara lirih tapi mantap: ia sedang berlatih fisik dan menjaga kesehatan demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang prajurit TNI.
Jenderal Kunto lalu memberi pesan tegas namun penuh kepedulian: banyak anak tentara yang tidak disiapkan secara maksimal untuk mengikuti jejak ayahnya. ”Sekarang harus disiapkan, biar fisik maksimal,” ucapnya. Saat ayah Dafa menjawab bahwa anaknya akan mencoba jalur Bintara, sang Jenderal justru mendorong lebih jauh.
“Tes yang tertinggi dulu. Perwira. Harus diiringi doa,” katanya.
Dan kemudian, sebuah kejutan lahir di tengah kesederhanaan itu. Letjen Kunto meminta stafnya mencatat biodata Dafa, dan dengan suara yakin, ia memberi sebuah hadiah luar biasa: kesempatan untuk masuk TNI AL tahun depan.
“Hadiah dari saya untuk anak penjaga daerah perbatasan,” ujarnya sembari menepuk bahu Dafa.
Suasana mendadak hening, mata Dafa berkaca-kaca. Dalam diam, harapannya meledak menjadi cahaya.
Momentum itu tak hanya menyentuh Dafa dan keluarganya, tapi menjadi simbol kuat: bahwa negara tidak sedang lupa pada ujung-ujungnya. Perhatian seorang Jenderal di perbatasan adalah bentuk nyata kehadiran negara di tempat yang sering sunyi dari perhatian pusat. Bahwa impian anak penjaga negeri layak dipeluk dengan semangat yang sama seperti mereka yang besar di kota-kota besar.
Letjen Kunto menegaskan bahwa anak-anak perbatasan harus mendapat ruang lebih dalam rekrutmen TNI.
“Kesempatan mereka jauh lebih sedikit dibandingkan anak-anak kota. Harus ada kuota khusus,” tegasnya.
Ini bukan soal belas kasihan, tapi keberpihakan. Karena pengabdian sejati tidak hanya lahir dari kemewahan, tetapi juga dari kesetiaan menjaga negeri dalam diam.
Hari itu, di bawah pohon tua yang menjadi saksi, sebuah janji lahir. Bukan sekadar janji Jenderal kepada anak Babinsa—tapi janji negara kepada generasi muda di daerah terluar. Dafa, dengan mimpi yang dulu dibisikkan dalam kesunyian, kini membawa semangat baru. Ia tahu, jalan di depannya masih panjang. Tapi ia juga tahu, mimpinya tak lagi sendiri. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : iman wachyudi