Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Beberapa waktu terakhir, pemerintah menggulirkan wacana penulisan ulang sejarah. Agenda ini dimotori oleh Kementerian Kebudayaan. Penulisan ulang sejarah lantas menuai polemik. Ada yang mendukung dan menolaknya.
Sosiolog dan sastrawan Indonesia yang kini mengajar di National University of Singapore Okky Madasari menegaskan, sejarah kebudayaan bangsa ini selalu diawali oleh perlawanan terhadap model dominan.
“Sutan Takdir, Hamzah Fansuri, para pelopor itu melakukan perlawanan atas dominasi wacana,” ujarnya.
Karena itu, ia mendukung langkah menulis ulang sejarah Indonesia. Tapi dengan syarat, penulisan sejarah harus melibatkan publik, akademisi, dan sastrawan. Bukan hanya dari unsur pemerintah. Sehingga harus ada forum bersama.
Yang lebih penting, tegasnya, adalah kebebasan berbicara dan berkebudayaan. “Jangan ada pembungkaman. Jangan ada narasi tunggal,” katanya (14/8). Bagi Okky, menyuarakan kegalauan banyak kalangan yang merasa ruang-ruang kritik kini semakin sempit.
Dalam diskusi yang diselenggarakan Great Institute, Okky berbicara lugas dan tajam. Dia mengajak semua pihak menengok wajah manusia Indonesia hari ini, khususnya generasi muda.
“Mereka itu kosmopolitan, kreatif, dan resisten. Mereka bukan sekadar pengguna budaya global, tapi juga penantang,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengupas sejarah dialektika kebudayaan bangsa Indonesia. Mulai dari Polemik Kebudayaan 1930-an antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane.
Hingga pertarungan ideologis Manifes Kebudayaan versus Lekra pada 1960-an.
Bagi Fadli, yang terpenting bukanlah menang-menangan. Namun yang utama pergulatan pemikiran itu sendiri.
“Harus ada reinventing Indonesia’s identity, penemuan ulang jati diri Indonesia,” katanya. Fadli menyebut dua karakter utama kebudayaan Indonesia adalah kekayaan dan ketuaan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO