Minggu, 15 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Industri Permesinan Tumbuh 19 Persen

Belanja Modal Pemerintah Naik

ILUSTRASI beban kerja mesin industri perlu diimbangi dengan perawatan yang memadai. F. RianAlfianto/JawaPos.com.

JAKARTA (BP) – Kinerja industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (Ilmate) mencatatkan hasil positif pada triwulan II tahun 2025 dengan pertumbuhan sebesar 5,19 persen (year-on-year).
Capaian positif itu diperkuat oleh lonjakan subsektor industri mesin dan perlengkapan yang tumbuh hingga 18,75 persen, tertinggi sejak tahun 2012.

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Direktorat Jeneral Ilmate Kementerian Perindustrian, Solehan, mengungkapkan, performa dari industri mesin dan perlengkapan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya belanja modal pemerintah yang naik sebesar 30,37 persen.

”Kenaikan belanja modal ini berdampak langsung pada peningkatan produksi dan investasi. Kami optimistis, pertumbuhan dan kontribusi sektor manufaktur masih dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi jika didukung oleh kebijakan yang pro-industri,” ujar Solehan.

Solehan menegaskan, untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai salah satu dari sepuluh ekonomi terbesar dunia, penguasaan teknologi industri menjadi keniscayaan. Artinya, transformasi menuju digitalisasi dan otomatisasi dinilai sebagai langkah strategis yang tidak dapat ditunda demi meningkatkan daya saing nasional.

”Strategi ini harus diiringi penguatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur digital, serta dorongan inovasi yang berkelanjutan,” urainya.

Menurut Solehan, pemerintah juga terus mengakselerasi kemandirian dalam upaya memproduksi mesin dan peralatan industri sebagai landasan menuju industrialisasi yang lebih mendalam. Langkahnya antara lain dengan fokus pada kolaborasi pemerintah, pelaku industri, dan lembaga riset guna meningkatkan kapasitas desain serta manufaktur dalam negeri.

”Langkah kolaborasi ini untuk memastikan industri nasional mampu memproduksi alat-alat yang sesuai dengan kebutuhan sektor prioritas. Selain itu, diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperkuat daya saing produk di pasar domestik maupun global,” urainya.

Pengawas Alat dan Mesin Pertanian Madya Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, Harsono, mengemukakan bahwa adopsi teknologi di sektor pertanian terbukti meningkatkan produktivitas hingga 30–50 persen. Selain itu menghemat tenaga kerja, mengurangi biaya operasional, dan memperbaiki kualitas hasil panen.

”Digitalisasi pertanian bahkan turut membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani,” ujarnya.

Dia menambahkan, strategi percepatan modernisasi harus memanfaatkan teknologi mekanisasi untuk berbagai komoditas, mulai dari padi, jagung, kedelai, tebu, hingga hortikultura. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia berpeluang memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

”Alsintan dan teknologi modern adalah kunci percepatan transformasi pertanian. Jika seluruh pemangku kepentingan bersinergi, maka visi pertanian Indonesia yang efisien, produktif, dan berdaya saing global dapat terwujud,” urai Harsono.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Robot Industri Indonesia (ASRII), Malik Khidir, menegaskan pentingnya pengembangan ekosistem berbasis inovasi untuk memperkuat daya saing industri nasional. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah melalui gerakan nasional Indonesia Manufacturing Center yang terintegrasi.

Menurut Malik, pusat inovasi tersebut diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara pelaku industri, akademisi, dan pemerintah dalam mengembangkan teknologi, khususnya di bidang otomasi dan robotik. ”Kita perlu membangun sebuah ekosistem yang tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga mampu mengkomersialisasikan inovasi menjadi produk yang bermanfaat bagi industri dan masyarakat,” ujarnya. (*)

Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY