Buka konten ini

Minuman klasik ini merupakan salah satu minuman segar khas Tanjungpinang yang dapat memenuhi hasrat lidah dan menjadi pelepas dahaga. Menikmatinya seakan-akan membuat siapa pun kembali bernostalgia ke masa lalu.
TIDAK banyak yang tahu, di Tanjungpinang, ada salah satu warung atau kedai kecil yang mampu menghadirkan kesejukan sekaligus mengundang nostalgia dan kenangan. Kedai kecil di tepi Jalan Ahmad Yani, Batu 5 Atas, Tanjungpinang itu, menyediakan minuman klasik yang menjadi pelepas dahaga dan pastinya dapat membuat siapa pun lupa akan teriknya matahari.
Kedai sederhana yang sekaligus menjadi tempat tinggal ini, telah menjadi persinggahan wajib bagi para pemburu dan penikmat minuman segar di Tanjungpinang, sejak puluhan tahun lalu. Minuman klasik dan legendaris itu bernama Es Apollo Tempo Doeloe. Bukan hanya sekadar pelepas dahaga, es apollo adalah kapsul waktu yang membungkus cita rasa masa kecil warga Kota Gurindam.
Tegukan pertama saat menikmati es Apollo selalu sama dan menggoda. Terasa dingin di lidah dan tenggorokan hingga membuat rasa manisnya langsung masuk ke lubuk hati.
Seperti ada rasa nostalgia yang tak tergantikan. Rasa yang mampu membuat para penikmat minuman bercampur es, kembali ke masa lalu dan bernostalgia ke masa kecil. Kedai minuman ini pertama kali dibuka pada tahun 1969.
Nama “Apollo” diambil dari demam dunia atas misi penerbangan luar angkasa para astronot Amerika kala itu.
Namun sejatinya yang melambungkan nama ini, bukanlah cerita tentang roket, melainkan kesetiaan pada resep asli tanpa tergoda mengikuti tren minuman kekinian. Menikmati Es Apollo Tempo Doeloe bukan sekadar memuaskan dahaga. Menikmati minuman ini adalah perjalanan rasa dari masa kini menuju masa lalu.
”Minum es Apollo serasa nostalgia ke masa lalu. Dahulu kami ingat, kalau sore pulang dari Madrasah, kami singgah jajan es Apollo,” ungkap Nurlailis (51), warga Jalan Kemboja, Tanjungpinang.
Menikmati es Apollo di kedai Es Apollo Tempo Doeloe Sejak 1969, akan ditemani cita rasa yang khas. Tidak lupa senyuman dan tatapan hangat dari pemilik kedai yang masih setia melayani.
”Rasa segarnya sedikit berbeda dari minuman lain. Manis dan mengenyangkan karena ada tapainya. Tidak bisa diungkap lah rasanya,” ujar Nurlailis.
Pemilik kedai Es Apollo Tempo Doeloe Sejak 1969, Hardi alias Ujang (67) mengungkapkan, es Apollo mirip seperti es campur. Terbuat dari beberapa macam bahan sehingga membuatnya bercita rasa khas.
Terbuat dari santan asli dengan ramuan tersendiri, susu lemak manis, tapai, potongan roti, agar-agar, cendol tepung beras, gula merah cair dan kacang tonggak atau kacang polong. Tampilan es apollo dipercantik dengan tambahan serutan es dan disiram dengan gula merah cair. Bentuk parutan es yang menyerupai gunung ini, akan sangat menggoda bagi siapa pun yang melihatnya.
”Sebenarnya zaman dahulu, banyak yang jual es seperti ini, tapi rasanya beda. Santan dan gula sebagai tambahan bahan, kami buat khas, itu yang membuat es Apollo ini beda,” ungkap Hardi kepada Batam Pos, Selasa (12/8).
Es Apollo buatannya, cerita Hardi, telah ada sejak tahun 1969. Saat itu ia masih sekolah dan membantu orang tuanya yang menjual es Apollo di kedai kecil kawasan Kota Lama Jalan Ketapang, Tanjungpinang.
Usai pulang sekolah, Hardi selalu menyempatkan diri untuk membantu orang tuanya menjual es Apollo dan belajar meramu minuman itu hingga dapat bertahan hingga kini. Tahun 1982, kedai Es Apollo Tempo Doeloe Sejak 1969 pindah dari Jalan Gereja ke lokasi Tangga Batu yang di kelilingi tiga Jalan utama yaitu Jalan Diponegoro, Jalan Sunaryo, dan Jalan Kemboja, Tanjungpinang.
Dari kawasan Kota Lama Tanjungpinang inilah, nama es Apollo dan kedai Es Apollo Tempo Doeloe Sejak 1969 semakin terkenal dan terus melegenda hingga zaman modern saat ini.
Kemudian, pada 2009, kedai yang melegenda ini pindah dari kawasan Kota Lama ke pertokoan Jalan Basuki Rahmat Tanjungpinang. Terkahir, pada 2013, kedai Es Apollo Tempo Doeloe Sejak 1969, menetap di Jalan Ahmad, Batu 5 Atas, Tanjungpinang.
”Kami bersyukur bisa jualan es Apollo sampai sekarang. Alhamdulillah saya bisa menyekolahkan anak hingga meraih gelar sarjana,” ujar bapak dua anak ini.
Saat ditanya mengenai nama es Apollo itu sendiri, ungkap Hardi, nama tersebut terinspirasi dari penerbangan roket Apollo 11 milik Amerika pada 1969. Misi luas angkasa itu digadang-gadang berhasil membawa manusia ke bulan dan kembali dengan selamat untuk pertama kalinya.
”Waktu itu, orang tua kami menjual es campur tanpa nama. Tapi saat itu ia mendengar berita roket Apollo 11 yang berhasil mendarat di bulan, saat itu pula orang tua kami mengambil nama tersebut,” ungkapnya sambil tersenyum.
Menurut Hardi, pelanggannya tidak hanya datang dari kalangan umum saja. Namun ”orang-orang besar” di Tanjungpinang juga menikmati es apollo seperti Gubernur Kepri dan Wali Kota serta pejabat Tanjungpinang lainnya.
”Almarhum Pak Sani (mantan Gubernur Kepri), sering pesan sama kami. Pak Ansar (Gubernur Kepri saat ini), sering singgah minum di kedai ini,” ungkapnya.
Mengenai harga, Hardi mengatakan penikmat minuman segar di Tanjungpinang tidak perlu khawatir. Es Apollo buatannya, relatif murah dan ramah di kantong.
”Sangat terjangkau. Satu gelas harganya Rp8 ribu. Bawa pulang atau beli bungkus Rp12 ribu,” jelasnya.
Atas dedikasinya mengembang es apollo sebagai kuliner khas lokal, Hardi diganjar penghargaan dari Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan pada Festival Kuliner 2011. Kemudian, penghargaan dari Wali Kota Tanjungpinang Syahrul, sebagai produk kuliner ikon Kota Tanjungpinang 2018. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG